Walaupun angka kemiskinan menurun, tetapi Angka Kedalaman Kemiskinan (P1) justru mengalami kenaikan dari 1,72 poin pada September 2024 menjadi 2,21 poin pada Maret 2025 dan 1,38 poin pada September 2025. Hal ini bermakna bahwa penduduk miskin di bawah garis kemiskinan cenderung menuju ke dasar jurang kemiskinan, walaupun jumlahnya berkurang.

Demikian pula, Angka Keparahan Kemiskinan (P2), meningkat dari 0,41 poin pada September 2024 menjadi 0,61 poin pada Maret 2025 lalu 0,28 poin pada September 2025. Hal ini bermakna bahwa kesenjangan pendapatan antara penduduk miskin semakin melebar, lalu menyempit pada periode Maret-September 2025.

Strategi mengatasinya adalah memprioritaskan penanganan P1 ketimbang P2, dan Pelaksanaan Program Prioritas Sembilan Berani dilaksanakan sejak awal tahun secara terpadu agar survei BPS dapat mengukur dampaknya pasca implementasi program tersebut.

Sulteng saat ini, menghadapi masalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yakni sebesar 49,70 ribu orang atau proporsinya 2,92 persen dari jumlah penduduk Sulteng dengan persentase pengangguran tertinggi berada di Kota Palu yakni 5,59 persen dan Kabupaten Banggai laut mencapai 3,69 persen di posisi kedua.

Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka di Morowali mencapai 2.84 persen, 3,11 persen di Kabupaten Banggai, serta 2,38 persen di Morowali Utara. TPT di Morowali tidak berubah dari Tahun 2023.

Sedangkan TPT di Banggai berkurang 0,01 persen, sebaliknya, TPT Morowali Utara justru mengalami kenaikan dari 2,23 persen pada Tahun 2023 menjadi 2,38 persen pada 2024 atau naik 0,15 persen.

Serbuan Tenaga Kerja migran membuat Tingkat Pengangguran Terbuka di Morowali Utara meningkat.

Di Sulteng, tingkat pengangguran terbuka laki-laki mencapai 2,69 persen lebih sedikit dibandingkan tingkat pengangguran terbuka Perempuan mencapai 3,29 persen.

Pengangguran di Sulteng didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menjadi ironi karena SMK disiapkan sebagai lifeskill memasuki lapangan kerja mencapai 5,48 persen. Sedangkan Tingkat pengangguran terbuka tertinggi kedua adalah lulusan Diploma IV, lulusan S1, S2, S3 mencapai 4,11 persen.

Rendahnya, TPT Sulteng bukannya tanpa masalah. Kita tidak mesti terpaku oleh angka rendahnya TPT tersebut karena definisi bekerja di Indonesia sangat sederhana yakni orang yang berusia 15 tahun ke atas bekerja 1 jam saja dalam seminggu sebelum sensus termasuk kategori bekerja.

Dari sisi Status Pekerjaan, diduga ada kecenderungan peningkatan, tenaga kerja kategori Buruh tidak tetap adalah buruh atau karyawan yg bekerja pada seorang majikan dan hanya digaji jika ada kegiatan.

Kategori Status Pekerjaan Pekerja keluarga yakni anggota rumah tangga yang membantu usaha untuk memperoleh penghasilan/ keuntungan yang dilakukan oleh satu dari beberapa orang anggota rumah tangga, tanpa upah atau gaji justru mengalami peningkatan pula. Prinsip pokoknya asal bekerja termasuk dalam kategori ini.

Selanjutnya, ada kecenderungan terjadinya fenomena shirking atau pekerja yang cenderung bermalas-malasan bekerja. Alasan ada kerabat yang berduka, acara mengenang 7 hari, 10 hari, 40 hari, 100 hari kematian kerabat maupun anggota keluarga dijadikan justifikasi, lebih diutamakan ketimbang profesionalisme bekerja. Selain itu, tingginya tingkat inflasi dua bulan lalu menimbulkan fenomena non-accelerating inflation rate of unemployment (NAIRU) yakni inflasi tinggi membuat pengangguran rendah.

Pemerintah Sulteng melalui vocal pointnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) patut pula mewaspadai para generasi kita yang berada pada kategori Not in Education, Employment and Training (NEET) yang dapat memberikan tekanan ekonomi sosial negatif pada pembangunan daerah.

Program Unggulan Padat Karya Berani Lancar yang lebih memprioritas pembangunan infrastruktur multiyear kewenangan Pemerintah Provinsi Sulteng merupakan satu dari berbagai solusi.