Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada Baginda Rasulullah SAW, pesan pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Kata Rasulullah SAW, “Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara.”
Secara lughah (bahasa), takwa berarti takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa. Ibnu Abbas mendefinisikan takwa sebagai takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya.
Umumnya, para ulama mendefinisikan takwa sebagai berikut: “Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku dengan adab-adab syariah.” Singkatnya, “Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji.” Atau pengertian yang sudah begitu populer, takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Dari definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa urgensi takwa sudah tidak diragukan lagi, apalagi Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW secara berulang-ulang menyeru kita supaya bertakwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa, Allah telah menjanjikan berbagai macam keistimewaan atau balasan atas mereka, di antaranya, bagi siapa saja yang bertakwa kepada-Nya, maka akan dibukakan baginya jalan keluar ketika menghadapi pelbagai persoalan hidupnya (QS Ath-Thalaq: 2).
Takwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi takwa bagi umat Islam di antaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan umat lain, bahkan dengan jin dan hewan, karena takwa adalah refleksi iman seorang muslim.
Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak mengimplementasikan keimanannya dengan sikap takwa. Binatang, jin dan iblis, dalam arti sederhana, semuanya beriman kepada Allah yang menciptakannya. Sebab, arti iman itu sendiri secara sederhana adalah “percaya”. Maka, takwa adalah salah satu sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya.
Dalam konteks bernegara dan bangsa kita yang mayoritas Muslim ini sering mengalami krisis keadilan dan penegakan hukum. Maka itu, ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa ini harus proaktif mengatasi krisis tersebut. Salah satunya dengan cara mem-breakdown terma takwa ke dalam reformasi mental pada semua aspek.
Ini bukan mengada-ada karena Al-Qur’an menyatakan bersikap adil adalah wujud takwa (Al-Maidah [5]: 8). Sikap tegas dan tanpa pandang bulu, meski diberlakukan terhadap diri sendiri dan kerabat, dalam penegakan hukum misalnya, hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang takwa kepada Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’ [4]: 135).
Takwa merupakan wasiat Allah kepada seluruh umat, baik generasi pertama maupun generasi akhir. Takwa juga merupakan salah satu sebab utama dihapuskannya dosa manusia.
Di samping itu, takwa juga menjadi sebab diraihnya pahala yang besar dan masuknya seseorang ke dalam surga. Wallahu a’lam.
Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)
