Makna apa terkandung pada data rilis BPS ini? Bila kita menggunakan data historis kemiskinan periode Maret 2014-Maret 2025, selama bulan September-Maret periode tersebut, terdapat 5 kali kenaikan angka kemiskinan dan 4 kali penurunan.
Kelima kenaikan angka kemiskinan tersebut terjadi berturut-turut pada September 2014-Maret 2015, September 2015-Maret 2016, September 2016-Maret 2017, September 2021-Maret 2022, dan September 2022-Maret 2023.
Sebaliknya 4 kali penurunan angka kemiskinan terjadi pada September 2017-Maret 2018, September 2018-Maret 2019, September 2019-Maret 2020, dan September 2024-Maret 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa selama ini, strategi penanganan kemiskinan relatif belum benar-benar tepat secara yakni a-spasial, belum inklusif, belum tematik, belum tepat sasaran, belum tepat mutu, belum tepat waktu dan belum tepat administratif.
Strategi penanggulangan kemiskinan masih bersifat instan layaknya pemadam kebakaran dan lips service. Penanganan kemiskinan masih bersifat ekonomi makro.
Secara mikro, bahwa inklusivitas ekonomi yakni menyasar pada rumah tangga miskin Perempuan yang berjumlah 31.448 rumah tangga atau 9,71 persen dari seluruh rumah tangga miskin, belum menyasar pada rumah tangga nelayan perikanan tangkap dan budidaya yang proporsinya 5,34 persen, belum menyasar pada kelompok rumah tangga disabilitas, serta belum mengedepankan jalinan hidup nan damai tercermin dalam harmoni sosial maupun harmoni manusia dan alam, sebagai amanah pencipta.
Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi pun di atas 10 persen pun, tetapi angka kemiskinan belum serta merta turun atau berjalan evolutif. Fenomena ini dapat menggerus tatanan hidup masyarakat apabila strategi Pembangunan yang diterapkan belum menyentuh akar masalah sosial ekonomi masyarakat.
Penyebabnya orkestra pelaksana pembangunan Provinsi Sulteng belum berubah paradigmanya dari mengagungkan pertumbuhan (growth oriented) menuju pertumbuhan berkeadilan (equity for growth) termasuk bekerja business as usual.
Sejak lama, khususnya pada Maret 2025 kontribusi monokultur beras yakni 24,05 persen di perkotaan dan 25,96 persen di perdesaan, rokok sebesar 12,60 persen di perkotaan dan 12,77 persen di perdesaan, serta ikan tongkol/tuna/cakalang sebesar 3,75 persen di perkotaan dan 4,10 persen di perdesaan, serta pada September 2025, yakni kontribusi beras di perkotaan sebesar 25,79 persen dan 26,42 persen di perdesaan, rokok sebesar 13,24 persen dan 12,89 persen, serta ikan tongkol/tuna/cakalang masing-masing sebesar 3,69 persen di perkotaan dan 3,39 persen di perdesaan menjadi penyebab akar kemiskinan.
