Oleh: Dr. Taufik, S.Sos.I., MSI
Dosen Ilmu Komunikasi K
Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Datokarama Palu

Dalam diskursus sejarah Islam di Kawasan Timur Indonesia, nama Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang akrab disapa Guru Tua, jamak dicitrakan secara denotatif sebagai mercusuar pendidikan dan ulama kharismatik. Narasi sejarah yang membeku selama puluhan tahun selalu menempatkan pendirian Lembaga Alkhairaat pada tahun 1930 di Kota Palu seolah-olah terjadi begitu saja lewat jalur dakwah linier. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau analisis semiotika komunikasi Roland Barthes, terdapat sebuah tanda kebudayaan (mitos) yang sangat kuat namun luput dari ruang public, Saat itu Guru Tua sedang melakukan reposisi radikal atas makna materi Beliau meruntuhkan dinding pemisah antara kesalehan ritual dan kerja ekonomi melalui tindakan nyata: berbisnis dan “berdagang dengan Tuhan”.

Latar biografis beliau menegaskan bahwa sebelum memancangkan pusat pendidikan di bumi Dato Karama, Guru Tua menempuh laku hidup sebagai seorang pedagang. Jejak perniagaan ini terekam secara empiris ketika beliau sempat bermukim di Pekalongan, Jawa Tengah, untuk berdagang batik. Melalui rantai komersial dan mobilitas niaga inilah, lintasan ruang dan waktu membawa sang ulama bermigrasi hingga ke Donggala, Sulawesi Tengah. Aktivitas ekonomi ini tidak berhenti saat lembaga pendidikan berdiri; Guru Tua terus menembus seantero Kota Palu untuk berdagang, menjadikannya penyelamat bagi keberlangsungan institusi Islam Alkhairaat yang kala itu masih berada dalam fase embrional. (https://www.kompasiana.com/tuturaji/5bb02f71ab12ae555763a5b3/belajar-dari-palu-merenungi-teladan-guru-tua?page=3)

Di sinilah letak lapis konotasi yang membentuk mitos baru. Bagi mata awam, aktivitas ekonomi Guru Tua pada masa penjajahan dinilai sekadar sebagai ikhtiar pragmatis untuk bertahan hidup dari seorang migran asal Tarim, Hadramaut, sekaligus cara konvensional mencari dana. Namun, menggunakan logika Barthes, aktivitas niaga tersebut sebenarnya bertindak sebagai penanda (signifier) dari sebuah petanda (signified) yang jauh lebih transendental. Guru Tua tidak sedang berdagang demi menumpuk kapital personal. Beliau sedang melakukan komunikasi semantik-spiritual dengan Sang Pencipta, di mana seluruh profit materi secara mutlak didekonstruksi dan dialihkan menjadi bahan bakar utama bagi eksistensi Pendidikan Alkhairaat.

Hal ini menjadi wujud nyata dari pesan Al-Qur’an (QS. Ash-Shaff: 10-11) mengenai tijarah sebuah perniagaan yang menyelamatkan manusia dari azab yang pedih. Guru Tua menangkap esensi ini bukan sebagai metafora teologis belaka, melainkan sebagai model operasional lembaga. Keuntungan dari lini bisnis yang dikelolanya tidak mengendap di kantong pribadi, melainkan dilebur menjadi beasiswa bagi anak-anak Indonesia Timur yang kala itu dicengkeram kebodohan struktural kolonial.

Secara semiotis, keberadaan ribuan cabang madrasah Alkhairaat yang kini menjamur dan menyebar di seantero Kawasan Timur Indonesia (mulai dari Sulawesi, Maluku, hingga Papua) adalah artefak komunikasi. Madrasah-madrasah tersebut merupakan bukti fisik dari profit perniagaan transendental yang sukses dicairkan di bumi. Lebih jauh lagi, manifestasi tanda ini tidak mandek pada struktur beton bangunan sekolah, melainkan termaterialisasi secara dinamis melalui para murid yang diutus ke berbagai pelosok daerah untuk mengajar.

Dalam ekosistem pemikiran beliau, para kader ini bukan sekadar subjek didik, melainkan perwujudan dari “buku hidup” (living books) yang ditulis langsung oleh sang ulama. Jika jamaknya seorang pemikir meninggalkan warisan berupa tumpukan manuskrip teks, Guru Tua justru menjadikan tubuh, pemikiran, dan pengabdian murid-muridnya sebagai kitab-kitab peradaban yang berjalan membawa misi teologis. (https://media.alkhairaat.id/sayid-idrus-bin-salim-aljufri-guru-tua-sang-pemimpin-membangun-umat-dengan-adaptasi-kultural/)

Setiap ruang kelas yang terbangun, setiap lembar “buku hidup” yang menyalakan pelita ilmu di wilayah terpencil, dan setiap anak yang bisa membaca secara gratis adalah “dividen spiritual” dari kontrak dagang yang disepakati antara Guru Tua dengan Tuhannya. Mitos pembebasan umat dari kebodohan inilah yang perlu didekati ulang. Guru Tua membalikkan logika kapitalisme: jika pasar dunia mencari keuntungan materi sebesar-besarnya dari manusia, maka bisnis Guru Tua menghabiskan seluruh materi demi memuliakan manusia di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, melihat perjalanan Guru Tua dari kacamata komunikasi semantik memberikan kita sebuah resolusi baru. Alkhairaat tidak sekadar tumbuh dari keikhlasan yang abstrak, melainkan ditopang oleh manajemen kemandirian ekonomi yang revolusioner pada zamannya. Di tengah riuhnya tantangan komersialisasi pendidikan modern saat ini, warisan pemikiran Guru Tua menjadi kritik tajam: bahwa bisnis terbaik adalah bisnis yang berani meletakkan Tuhan sebagai mitra utama, dan menjadikan kesejahteraan umat sebagai satu-satunya bentuk keuntungan.