Nabi Isa ‘alaihissalam adalah salah satu nabi yang dimuliakan dalam Islam. Nama beliau disebut berulang kali dalam Al-Qur’an, menunjukkan kedudukan yang tinggi sebagai utusan Allah yang membawa risalah tauhid kepada kaumnya. Sejak kelahirannya hingga perjalanan hidupnya, Nabi Isa dipenuhi dengan tanda-tanda kebesaran Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) berfirman: “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu hanyalah seorang rasul, dan telah berlalu sebelumnya beberapa rasul…” (QS. Al-Ma’idah: 75)

Ayat ini menegaskan bahwa Isa ‘alaihissalam adalah seorang rasul, hamba Allah yang diutus untuk menyampaikan wahyu. Beliau bukanlah sosok yang memiliki sifat ketuhanan, melainkan manusia pilihan yang diberi keistimewaan oleh Allah.

Keistimewaan Nabi Isa sudah tampak sejak beliau dilahirkan. Tanpa seorang ayah, beliau lahir sebagai mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah. Bahkan, dalam keadaan masih bayi, beliau telah diberi kemampuan berbicara untuk membela kehormatan ibunya, Maryam ‘alaihassalam:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”
(QS. Maryam: 30)

Sepanjang hidupnya, Nabi Isa diberikan berbagai mukjizat, seperti menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit kusta, bahkan menghidupkan orang mati—semuanya dengan izin Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan tersebut bukan berasal dari dirinya, melainkan sebagai tanda kenabian dari Allah.

Yang juga menjadi bagian penting dalam keyakinan Islam adalah bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam tidak wafat dalam keadaan dibunuh, dan tidak pula disalib. Allah SWT menegaskan: “…padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka… Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya…” (QS. An-Nisa: 157–158)

Ayat ini memberikan penegasan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Isa dan mengangkatnya ke sisi-Nya. Ini adalah bentuk kemuliaan dan perlindungan Allah kepada salah satu nabi-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa Nabi Isa belum wafat, dan akan kembali ke bumi menjelang hari kiamat:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba waktunya Isa putra Maryam turun di tengah kalian sebagai pemimpin yang adil…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kembalinya Nabi Isa kelak menjadi bagian dari tanda besar hari akhir, sekaligus menegaskan bahwa beliau adalah hamba Allah yang menjalankan tugas sesuai ketetapan-Nya.

Dengan demikian, Islam memandang Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai sosok yang mulia: seorang nabi, hamba Allah, yang diberikan mukjizat, diselamatkan dari makar manusia, dan diangkat ke sisi Allah. Semua ini menjadi bagian dari keyakinan yang menguatkan keimanan seorang muslim terhadap para nabi dan kekuasaan Allah. Wallahu a’lam

RIFAY (REDAKTUR MEDIA ALKHAIRAAT)