Setiap harta yang kita miliki sejatinya terdapat juga harta orang lain. Oleh karena itu kita wajib mengeluarkan hak oranglain dengan melalui jalan bersedekah.
Pada kenyataannnya ada banyak orang-orang mukmin bersedekah banyak. Namun kita perlu waspadai, jangan sampai pahala dari bersedekah kita menjadi sia-sia.
Musuh pertama dari sedekah adalah riya. Bersedekah sebenarnya membutuhkan proses untuk bisa ihklas. Pada tahap awal, perasaan tidak ikhlas, riya dan sum’ah kerap kali muncul. Sebagian mengatakan ini merupakan tahapan dari proses untuk ikhlas.
Namun perlu diketahui bahwa amalan yang dilakukan dengan tidak ikhlas dan riya tidak mendapat berkah dari Allah. Sehingga proses menjalani tahapan untuk bisa ikhlas diharapkan jangan sampai berlangsung lama. Karena jika lama, maka apa yang sudah kita berikan tersebut tidak bernilai apa-apa di mata Allah SW.
Namun sangat disayangkan bila seseorang beramal dengan Riya’ atau dengan tidak ikhlas karena tidak akan mendapat keberkahan dari Allah swt.
Jika seseorang riya’ dalam amalan sedekahnya maka akan menghapus pahala sedekah tersebut. Bahkan perbutan riya’ tidah hanya dalam masalah sedekah saja. Riya’ dapat terjadi pada setiap amal dan menghapus pahala amal tersebut.
Kedua, mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya’ Tindakan mengungkit-ungkit sedekah hingga akhirnya menyakiti penerimanya terkadang juga tidak bisa dihindarkan. Terlebih jika si penerima melakukan sedikit kesalahan, maka si pemberi akan meledak-ledak seolah dia sudah memberikan seluruh hartanya.
Beberapa kalimat yang terucap hingga menyakiti penerima sedekah misalnya “Tidak tahu diri, dulu waktu susah siapa yang membantu” dan masih banyak kalimat lainnya yang sangat menyakitkan bisa terucap.
Jika tidak sengaja dan akhirnya mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan tersebut, silakan renungkan kalam Allah dalam Alquran berikut ini. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).
Ternyata, seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan yakni mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya.
Pada hakikatnya manusia sama, yang membedakan hanya yang satu hartanya berlebih sehingga bisa memberi dan yang satu kekurangan.
Ketiga, bersifat ujub. Atau biasa kita ketahui dengan sifat yang sangat senang mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan dirinya sendiri. Sifat ini tercela dan harus dihindari oleh manusia karena dapat membuat orang menjadi sombong dan riya.
Dalam suatu hadits Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang yang merasa bangga dan menceritakan perbuatan baiknya pada orang lain maka pahala atas perbuatan baiknya tersebut akan dihapuskan.
Sebaiknya jika seseorang berbuat baik maka sebaiknya tidak diceritakan dan hanya ia serta Allah saja yang tahu. “Tiga hal yang membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani).
Keempat, menggunakan uang haram. Hal ini diumpamakan seperti mencuci baju menggunakan urine.
Memang, apa yang dikerjakan itu terlihat sangat baik karena dapat membantu sesama. Namun, tindakan yang dianggap baik ini justru bisa memasukan kita ke dalam neraka.
Dari Ibnu Mas’ud ra beliau terima dari Nabi SAW bersabda: “Seorang hamba memperoleh harta haram lalu menginfakkannya seolah-olah diberkahi dan menyedekahkannya semua hartanya seolah-olah diterima melainkan usahanya itu makin mendorongnya masuk ke neraka, sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan, akan tetapi menghapuskan keburukan dengan kebaikan; sesungguhnya kenistaan tidak akan menghapuskan kenistaan” (Musnad Ahmad 1/387).
Jelas Allah SWT adalah Maha Suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Juga dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR. Muslim no. 224).
Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. Semoga kita terhindar dari perbuatan sia-sia tersebut. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

