Suatu hari, kami duduk bersama – sama Rasulullah SAW. Kami lihat Beliau tertawa. Kemudian Beliau bertanya kepada kami, “Tahukah kalian, apakah yang menyebabkanku tertawa..?” Kami menjawab, “Allah dan Rasulnya lebih tau”.

Rasul berkata, “Saya tertawa karena dialog seseorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan)”. Hamba itu berkata, “Wahai Tuhan, tidakkah Kamu akan menyelamatkanku dari kedholiman?“. Tuhan menjawab, “Ya“. Hamba itu berkata, “Saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan berdasarkan saksi”. Tuhan menjawab, “Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi”.

Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut, “berkatalah…!” Maka, anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut. kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota – anggota badan yang lain, “kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu (di dunia) aku telah membela kalian”.

Allah menciptakan anggota tubuh ini (mata, telinga, kulit, dan semua organ tubuh yang selalu menyertai kita) yakni untuk mengawasi gerak-gerik kita dimanapun kita semua berada.

Anggota tubuh tersebut akan melaporkan segala aktivitas hidup kita di dunia kepada Allah SWT di ambang neraka jahanam. Hanya saja yang menjadikan manusia itu lupa akan pengawasan Allah dan kehidupan akhirat adalah prasangka mereka bahwa Allah tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Allah SWT berfirman: “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat : 20)

Untuk kita renungkan bersama bahwa pada akhirat nanti, anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas segala perbuatan karena Allah SWT membuat mereka mampu berkata-kata,sebagai hujjah dan bukti atas pemiliknya.

Pada hari itu tak ada lagi yang mampu berkelit tas segala kealpaannya.

Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong.

Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia.

Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia.

Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan.

Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda.Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya.

Mengapa? Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak pernah,yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda.

Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan.

Oleh karena sel tubuh kita itu mampu merekam jejak apapun yang mampu kita lakukan, maka, sangat logis untuk membayangkan anggota tubuh kita akan mudah saja, tidak keliru satu titik pun saat menjadi saksi tentang segala perbuatan yang pernah kita lakukan, nanti di hadapan Allah (sel tubuh menjadi saksi)

Oleh karenanya, mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik, selalu berdzikir dan mengingat Allah, membiasakan diri mengerjakan shalat, berpuasa dan bersedekah, serta berbuat baik kepada sesama, sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita.

Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)