MAL – Banyak orang mengira Flu Singapura berasal dari Singapura atau merupakan jenis influenza. Padahal anggapan tersebut tidak tepat.

Penyakit yang dikenal luas sebagai Flu Singapura sebenarnya adalah Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM), infeksi virus yang sudah dikenal dunia medis sejak 1957 dan lebih sering menyerang bayi serta anak-anak.

Meski umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri, penyakit ini memiliki tingkat penularan yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di Indonesia kembali melaporkan peningkatan kasus, sehingga kewaspadaan orang tua dan lingkungan sekolah menjadi penting untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Penyakit yang Sudah Dikenal Sejak 1957

HFMD pertama kali dilaporkan di Toronto, Kanada, pada 1957. Namun nama “Flu Singapura” baru populer di Indonesia setelah terjadi lonjakan kasus besar di Singapura pada awal 2000-an.

Dokter Spesialis Anak RS SMC Samarinda, dr. Joko Purnomo Heroanto, menjelaskan bahwa penyakit tersebut sebenarnya tidak berasal dari Singapura.

“HFMD tidak ada hubungannya dengan Singapura. Penyebutan Flu Singapura muncul karena pada awal tahun 2000-an pernah terjadi outbreak atau lonjakan kasus di Singapura. Karena saat itu gejalanya menyerupai flu, masyarakat Indonesia kemudian menyebutnya Flu Singapura,” katanya.

Dinas Kesehatan Sumatera Selatan juga menegaskan bahwa Flu Singapura bukan penyakit influenza dan bukan berasal dari Singapura. Penyakit ini disebabkan oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71 yang umumnya menyerang anak-anak.

Virus Enterovirus Menjadi Penyebab Utama

Flu Singapura disebabkan oleh virus dari kelompok Enterovirus, terutama Coxsackievirus A16 dan Human Enterovirus 71 (HEV 71).

Virus ini dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang melibatkan banyak anak, seperti tempat penitipan anak, PAUD, taman bermain, hingga kolam mandi bola.

Ira dari Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mengatakan, “Flu Singapura atau HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5–7 tahun.”

Meski demikian, orang dewasa juga dapat tertular, terutama jika memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Gejala Awal Sering Dikira Demam Biasa

Pada tahap awal, gejala Flu Singapura kerap menyerupai penyakit infeksi ringan lainnya.

Gejala yang umum muncul antara lain:

  • Demam selama satu hingga dua hari

  • Nyeri tenggorokan

  • Hilang nafsu makan

  • Lesu dan tidak bertenaga

  • Sakit kepala

  • Pilek

Setelah itu biasanya muncul gejala khas berupa ruam kemerahan atau lenting pada telapak tangan dan telapak kaki, serta luka menyerupai sariawan di dalam mulut.

Ruam juga dapat muncul di area lain seperti lutut, siku, bokong, lipatan paha, hingga area genital.

Menurut dr. Joko Purnomo Heroanto, keluhan yang paling sering membuat orang tua khawatir justru berasal dari luka di rongga mulut.

“Yang paling sering membuat orang tua panik adalah munculnya banyak sariawan di dalam mulut anak. Akibatnya anak menjadi sulit makan, rewel, dan merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Mengapa Flu Singapura Sangat Mudah Menular?

Salah satu alasan HFMD sering menyebabkan klaster kasus adalah karena banyak jalur penularan yang dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari.

Virus dapat menyebar melalui:

  • Percikan ludah saat batuk atau bersin

  • Air liur penderita

  • Cairan dari lepuhan kulit

  • Cairan hidung dan tenggorokan

  • Feses penderita

  • Permukaan benda yang terkontaminasi

Masa inkubasi penyakit umumnya berlangsung tiga hingga enam hari setelah seseorang terpapar virus.

Penularan dapat terjadi bahkan sebelum gejala muncul dan tetap berlangsung beberapa hari setelah gejala menghilang. Risiko penularan tertinggi biasanya terjadi ketika penderita masih mengalami demam, sariawan aktif, dan ruam.

Ira menjelaskan bahwa virus penyebab Flu Singapura menular melalui kontak langsung dengan cairan hidung dan tenggorokan, air liur, cairan dari lepuhan, maupun feses penderita.

Playground dan Mainan Anak Bisa Menjadi Media Penyebaran

Selain kontak langsung, benda-benda yang sering disentuh juga dapat menjadi sarana penyebaran virus.

Dr. Joko Purnomo Heroanto mengingatkan bahwa berbagai fasilitas umum yang digunakan anak-anak perlu mendapat perhatian khusus.

“Meja, kursi, mainan, hingga fasilitas bermain umum dapat menjadi media penularan. Playground dan kolam mandi bola perlu mendapat perhatian karena penularan dapat terjadi dengan sangat mudah apabila ada anak yang sedang sakit,” katanya.

Karena itu, kebersihan fasilitas bermain dan kebiasaan mencuci tangan menjadi langkah penting dalam memutus rantai penularan.

Sebagian Besar Kasus Sembuh Dalam 7–10 Hari

Kabar baiknya, sebagian besar penderita HFMD mengalami gejala ringan dan dapat pulih tanpa perawatan khusus dalam waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari.

Namun demikian, beberapa komplikasi serius tetap dapat terjadi meski relatif jarang.

Komplikasi yang dapat muncul antara lain:

  • Dehidrasi akibat sulit makan dan minum

  • Meningitis virus

  • Ensefalitis

  • Miokarditis

  • Kelumpuhan atau paralisis

Risiko komplikasi lebih sering dikaitkan dengan infeksi Human Enterovirus 71 dibandingkan Coxsackievirus A16.

Karena itu, orang tua dianjurkan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada Flu Singapura.

Kasus Flu Singapura Kembali Meningkat di Sejumlah Daerah

Sepanjang 2025 hingga 2026, sejumlah daerah melaporkan peningkatan kasus suspek HFMD.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat peningkatan suspek pada minggu ke-44 hingga ke-46 atau periode 24 Oktober hingga 15 November 2025.

Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi R, MPH, mengatakan, “Alert atau peringatan kewaspadaan telah disampaikan ke puskesmas untuk memastikan adanya kasus, tindakan PE, tindaklanjut pencegahan dan pengendalian.”

Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat 523 kasus suspek HFMD sepanjang 2026. Kasus mulai meningkat sejak April 2026 dan Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 102 kasus.

Solikhin juga mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila menemukan gejala.

“Jika menemukan atau mengalami gejala Flu Singapura, segera diperiksakan ke puskesmas dan batasi interaksi untuk menghindari penularan,” ujarnya.

Langkah Pencegahan yang Dianjurkan

Pencegahan HFMD berfokus pada kebersihan diri dan lingkungan.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin

  • Menjaga etika batuk dan bersin

  • Membersihkan mainan dan benda yang sering disentuh

  • Tidak berbagi alat makan, minum, handuk, atau pakaian

  • Menghindari kontak dekat dengan penderita

  • Mengistirahatkan anak yang sakit di rumah hingga pulih

Dr. Joko Purnomo Heroanto mengingatkan, “Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, asupan gizi seimbang, dan menjaga kebersihan tangan agar risiko tertular HFMD dapat diminimalkan.”

Pemerintah juga telah memperkuat upaya pengendalian penyakit menular melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit yang mulai berlaku pada 11 Maret 2026 dan mencakup pengendalian berbagai penyakit menular, termasuk HFMD.