PALU, MAL – Di tengah semarak menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, masih ada warga di daerah Sulawesi Tengah yang mengaku belum merasakan sepenuhnya arti kemerdekaan. Salah satunya warga Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, yang hingga kini harus menjalani malam dalam kondisi minim penerangan.
Dari Kota Palu menuju Kecamatan Kulawi Selatan membutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan. Sementara dari pusat Kabupaten Sigi, perjalanan menuju wilayah tersebut ditempuh sekitar dua jam. Meski bukan wilayah yang terlalu jauh dari pusat pemerintahan, sejumlah warga menilai perhatian pemerintah terhadap Kecamatan Kulawi Selatan masih jauh dari harapan.
Warga Desa Gimpu, Kecamatan Kulawi Selatan, Fatmawati, mengungkapkan, lampu penerangan jalan umum (PJU) di desanya sudah sekitar dua tahun tidak berfungsi.
Menurutnya, kondisi tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah setempat. Namun, hingga kini belum ada perbaikan yang dirasakan warga.
“Sudah dua tahun penerangan jalan tidak berfungsi. Padahal kami sudah melaporkan masalah ini kepada pemerintah setempat, namun laporan itu tidak pernah mendapat respons,” keluh Fatmawati.
Ia mengatakan, kondisi semakin memprihatinkan ketika hujan turun. Listrik PLN terkadang ikut padam sehingga sebagian wilayah desa benar-benar berada dalam kegelapan.
“Kalau malam suasananya sangat mencekam. Apalagi kalau hujan dan lampu PLN ikut mati, desa kami benar-benar gelap gulita,” ujarnya.
Fatmawati menilai, kondisi tersebut membuat warga, khususnya perempuan dan anak-anak, merasa tidak aman ketika harus bepergian pada malam hari.
“Saya kalau mau keluar malam takut karena gelap. Apalagi di dekat jalan pekuburan itu tidak ada rumah. Jalannya merupakan jalan poros, tetapi gelap gulita. Kami takut ada orang jahat bersembunyi di sana. Kalau terjadi sesuatu, siapa yang tahu?” katanya.
Menurut Fatmawati, kondisi Desa Gimpu dan sejumlah wilayah di Kecamatan Kulawi Selatan seolah masih jauh dari sentuhan pembangunan.
“Jarak desa kami dengan ibu kota provinsi tidaklah jauh, tetapi kondisi desa kami terasa seperti tinggal di pedalaman. Kami juga ingin desa kami terang seperti desa-desa yang ada di kabupaten lain,” tuturnya.
Ia bahkan mempertanyakan program Berani Menyala yang menjadi salah satu program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid.
“Program Berani Menyala itu untuk siapa? Kami juga ingin anak-anak kami cerdas seperti anak-anak lainnya. Bagaimana mereka bisa belajar maksimal kalau kondisi desa masih gelap? Apakah ini yang dinamakan merdeka?” ujarnya.
BBM Sulit, Jalan Rusak
Keluhan warga tidak hanya mengenai minimnya penerangan. Persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan kondisi infrastruktur jalan juga menjadi perhatian masyarakat.
Andi Rahman, salah seorang warga Kulawi Selatan, mengatakan ketersediaan BBM di wilayah tersebut kerap tidak mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Barusan datang mobil Pertamina mengisi SPBU. Kalau kami datang sedikit terlambat dan sudah antre, BBM tidak kebagian,” keluhnya.
Ia juga menyoroti kondisi jalan di Kecamatan Kulawi Selatan yang menurutnya masih mengalami kerusakan di sejumlah titik, baik jalan desa maupun jalan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
“Sudah dua tahun sejak kepemimpinan mereka, tetapi belum ada perubahan yang kami rasakan. Desa kami masih gelap, jalan desa dan jalan provinsi masih rusak, sementara kebutuhan BBM masyarakat juga belum terpenuhi,” katanya.
Andi berharap pemerintah tidak hanya datang untuk melihat kondisi masyarakat, tetapi juga menghadirkan solusi nyata.
Menurutnya, masyarakat Kulawi Selatan juga berhak mendapatkan fasilitas dasar yang layak, mulai dari penerangan jalan, akses jalan yang baik hingga ketersediaan BBM.
Sementara itu, sebelumnya Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid disebut warga sempat berjanji akan berkunjung ke wilayah Kulawi Selatan. Namun, hingga kini kunjungan tersebut belum terlaksana.
Warga berharap pemerintah provinsi maupun Pemerintah Kabupaten Sigi segera turun langsung melihat kondisi masyarakat di Kecamatan Kulawi Selatan.
Bagi warga, kemerdekaan bukan hanya tentang perayaan dan pemasangan bendera merah putih. Kemerdekaan juga berarti dapat berjalan dengan aman pada malam hari, mendapatkan akses jalan yang layak, memperoleh BBM yang cukup, serta memiliki lingkungan yang terang dan nyaman untuk belajar maupun beraktivitas.
“Kami hanya ingin merasakan terang seperti masyarakat di daerah lain. Di usia Indonesia yang ke-81 tahun ini, kami ingin benar-benar merasakan arti kemerdekaan,” harap warga.
