PALU, MAL – Program EMPOWER yang dijalankan Save the Children Indonesia bersama Cargill sejak 2021 secara aktif berupaya mencegah pekerja anak dan melindungi hak-hak anak di wilayah sentra perkebunan kakao di Sulawesi. Program ini fokus pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan sektor kakao.
Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, menjelaskan bahwa program EMPOWER dibangun melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, kelompok masyarakat, dan pihak swasta. Kakao, sebagai aset utama masyarakat, menjadi fokus pengembangan dalam program ini.
EMPOWER dilaksanakan di empat kabupaten yang tersebar di dua provinsi, yaitu Bone, Soppeng, Wajo, dan Poso. Lokasi-lokasi ini menjadi prioritas mengingat kerentanan anak-anak di lingkungan perkebunan terhadap eksploitasi dan kekerasan.
“Tujuan utama kami adalah perlindungan anak. Anak-anak di lingkungan perkebunan cukup rentan terhadap eksploitasi dan kekerasan,” kata Ihwana Mustafa.
Ia melanjutkan, program ini diarahkan untuk mencegah pekerja anak dan pernikahan dini. Save the Children memperkuat literasi masyarakat mengenai hak anak dan penanganan kasus melalui pendekatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).
Kelompok masyarakat yang tergabung dalam PATBM berperan penting dalam mengidentifikasi berbagai persoalan yang dialami anak, mulai dari anak putus sekolah, tidak memiliki akta kelahiran, hingga keterlibatan dalam pekerjaan yang tidak sesuai usia. Temuan ini kemudian dirujuk kepada instansi berwenang.
Ihwana Mustafa menambahkan, Cargill turut memberikan dukungan terhadap anak-anak yang teridentifikasi terlibat dalam pekerjaan di sektor kakao. Dukungan ini terutama bertujuan agar mereka dapat kembali memperoleh pendidikan, antara lain berupa perlengkapan sekolah.
Bagi anak-anak yang masih membantu orang tua di kebun, program ini memberikan pemahaman mengenai batasan pekerjaan yang aman dan sesuai usia mereka.
“Bukan berarti anak-anak tidak boleh membantu orang tua. Mereka tetap bisa membantu, tetapi harus diperhatikan keselamatan dan haknya,” ujar Ihwana Mustafa.
Anak-anak tidak boleh melakukan pekerjaan yang bersentuhan dengan bahan kimia berbahaya, seperti mencampur pupuk atau racun. Penggunaan alat kerja berbahaya juga menjadi perhatian, sehingga dalam sejumlah kasus, alat kerja yang berpotensi membahayakan diganti dengan peralatan yang lebih aman.
Direktur Humanitarian dan Program Operation Save the Children Indonesia, Fadli Usman, menegaskan bahwa salah satu alasan utama program EMPOWER dijalankan adalah untuk memastikan rantai pasok kakao terbebas dari pekerja anak. Upaya perlindungan anak harus dipastikan sejak awal dalam rantai pasok, bukan menunggu persoalan terjadi.
Selama proses pelaksanaan program, Save the Children mengidentifikasi lebih dari 1.000 anak. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 anak di empat kabupaten teridentifikasi sebagai pekerja anak.
“Jumlahnya mungkin terlihat kecil, tetapi kalau tidak segera diintervensi dan dikembalikan ke sekolah, persoalan ini bisa menjadi lebih besar,” kata Fadli Usman.
Penanganan terhadap anak yang ditemukan sebagai pekerja anak tidak berhenti pada identifikasi. Mereka diarahkan untuk mendapatkan pendampingan dan dirujuk kepada lembaga terkait sesuai kebutuhan. Fadli juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan perlindungan anak setelah program berakhir.
“Kuncinya sebenarnya ada di masyarakat. Masyarakat bukan objek, tetapi subjek. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya,” ujarnya.
Fadli Usman mengungkapkan bahwa berakhirnya program EMPOWER pada tahun 2026 tidak berarti kegiatan perlindungan anak berhenti. Save the Children tetap melakukan pemantauan untuk melihat keberlanjutan program di tingkat masyarakat melalui evaluasi bertahap.
Evaluasi dilakukan sebelum program (baseline), selama program, dan sekitar lima hingga enam bulan setelah program berakhir. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mengukur keberhasilan dan mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki agar praktik baik dapat terus berjalan.
Mitra lokal juga menjadi kekuatan penting dalam memastikan keberlanjutan program. Mereka yang tetap berada di komunitas dapat memantau perkembangan dan mendorong masyarakat melanjutkan praktik baik yang telah dibangun.
Ihwana Mustafa menambahkan, pendekatan pemberdayaan melalui EMPOWER berpeluang diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi ekonomi setempat, seperti komoditas yang berbeda. Literasi keuangan juga tetap menjadi bagian penting dari pemberdayaan masyarakat, terutama menghadapi risiko pinjaman dan judi online.
Program EMPOWER merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk membangun rantai pasok kakao yang lebih bertanggung jawab. Pendekatan perlindungan anak berbasis masyarakat menjadi kunci keberlanjutan praktik baik setelah program selesai.
Di Sulawesi Tengah, Cargill juga melaporkan dukungannya kepada lebih dari 5.600 petani kakao hingga tahun 2026 melalui pelatihan, sertifikasi, dan penguatan keterlacakan rantai pasok.
