PALU — Dosen Universitas Katolik Atma Jaya, Fransiskus Surdiasis, menekankan pentingnya media meliput program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan perspektif kepentingan publik dan agenda perubahan sosial yang lebih luas.
Menurutnya, banyak inisiatif dan kerja-kerja perubahan yang dilakukan melalui program CSR belum mendapatkan apresiasi yang semestinya. Karena itu, pelibatan media dalam peliputan CSR perlu didukung dengan kerangka jurnalisme yang berkualitas.
“Banyak kerja-kerja perubahan tidak mendapatkan apresiasi yang sepantasnya. Karena itu, pelipatan dan peliputan CSR memerlukan kerangka jurnalisme yang berkualitas,” kata Fransiskus saat menjadi narasumber dalam kelas daring Journalism on CSR Batch 3, Senin (8/6).
Dosen komunikasi tersebut menjelaskan bahwa CSR merupakan salah satu pilar penting dalam aktivitas perusahaan modern. Namun, media kerap masih memandang CSR sebagai urusan perusahaan semata, bukan sebagai isu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Ia juga menilai pemahaman mengenai CSR, termasuk di kalangan wartawan, masih sering keliru karena CSR hanya dipandang sebagai bentuk kebaikan perusahaan kepada masyarakat.
“CSR seharusnya dibangun di atas perspektif etis untuk mendorong masyarakat tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Fransiskus, apabila CSR dipahami sebagai upaya menciptakan perubahan, maka seluruh program yang dijalankan harus berangkat dari persoalan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Ia menambahkan, program fellowship jurnalisme CSR merupakan bentuk apresiasi terhadap praktik CSR sekaligus upaya mendorong media agar melaporkan program-program tersebut secara lebih tepat, proporsional, dan bermakna.
“Fellowship adalah bentuk apresiasi terhadap CSR, sekaligus mendorong media untuk melaporkan CSR dengan cara yang lebih proper, tepat, dan bermakna,” katanya.
Karena itu, ketika CSR dan media bertemu dalam ruang sosial, keduanya sama-sama berhubungan dengan kepentingan publik.
Fransiskus juga menyoroti kecenderungan liputan CSR yang masih berfokus pada level paling dasar, yakni output atau hasil langsung dari sebuah program. Padahal, menurutnya, jurnalis perlu menggali lebih jauh hingga pada tingkat outcome dan impact yang dihasilkan.
Ia mendorong para jurnalis agar tidak berhenti pada pelaporan kegiatan semata, melainkan mampu menjelaskan dampak dan perubahan yang dirasakan masyarakat dari program CSR tersebut.
“Pemberitaan media harus mampu menempatkan inisiatif CSR dalam konteks kebutuhan masyarakat, mengapresiasi kerja-kerja yang dilakukan, mengajukan perbaikan, sekaligus mendorong keterlibatan yang lebih luas,” tuturnya.

