BELAKANGAN ini publik kembali dikejutkan oleh berbagai temuan bahwa masih ada siswa tingkat SMA, bahkan yang telah lulus, yang belum mampu membaca dengan lancar atau melakukan operasi hitung sederhana.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang mengusik nurani: bagaimana mungkin seorang anak dapat menempuh pendidikan selama dua belas tahun, tetapi belum menguasai kemampuan paling dasar dalam belajar?

Persoalan ini tidak dapat disederhanakan dengan menyalahkan siswa. Ketidakmampuan membaca dan berhitung pada usia remaja merupakan akumulasi dari persoalan yang berlangsung sejak tahun-tahun awal pendidikan.

Ketika Fondasi Tidak Dibangun dengan Kokoh

Selama ini masyarakat sering menganggap kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) adalah urusan taman kanak-kanak (TK). Padahal, secara filosofi dan kebijakan pendidikan, TK berfokus pada pengembangan karakter, motorik, bahasa, sosial, dan kesiapan belajar melalui bermain, bukan sebagai “mini SD” yang membebani anak dengan target akademik.

Di sisi lain, ketika anak memasuki SD, terutama kelas 1, realitas yang dihadapi sering kali berbeda. Banyak buku pelajaran maupun Lembar Kerja Siswa (LKS) justru langsung menyajikan instruksi yang panjang, kalimat majemuk, hingga paragraf yang belum sesuai dengan kemampuan sebagian anak berusia enam atau tujuh tahun.

Akibatnya muncul paradoks. TK tidak diwajibkan menjadikan calistung sebagai target utama, tetapi SD seolah berasumsi bahwa semua murid sudah mampu membaca. Anak yang belum siap akhirnya tertinggal sejak hari-hari pertama sekolah.

Ironisnya, ketertinggalan itu sering tidak segera diatasi. Anak tetap naik kelas, sementara kemampuan literasi dasarnya belum benar-benar terbentuk.

LKS yang Terlalu Berat untuk Anak

Persoalan lain yang patut dikritisi adalah penggunaan LKS yang sering kali lebih berorientasi pada penyelesaian soal daripada proses belajar.

Tidak sedikit LKS kelas 1 SD yang meminta siswa membaca satu paragraf, memahami isi bacaan, lalu menjawab beberapa pertanyaan. Bagi anak yang baru belajar mengenal huruf, tugas seperti ini menjadi beban yang sangat berat. Mereka belum selesai belajar mengeja, tetapi sudah dituntut memahami isi bacaan.

Alih-alih menjadi sarana belajar, LKS akhirnya berubah menjadi alat seleksi yang membedakan anak yang sudah bisa membaca—biasanya karena mendapat les atau diajari orang tua—dengan anak yang benar-benar mengandalkan pembelajaran di sekolah.

Dalam kondisi seperti ini, sekolah tanpa sadar justru memperlebar kesenjangan kemampuan belajar sejak kelas pertama.

Efek Domino hingga SMA

Kemampuan membaca dan berhitung dibangun sejak kelas-kelas awal sekolah dasar. Apabila pada fase ini seorang anak tertinggal dan tidak memperoleh pendampingan yang memadai, maka ketertinggalan tersebut akan terus terbawa hingga jenjang berikutnya.

Sistem pendidikan kita masih terlalu sering menekankan kenaikan kelas dibanding memastikan setiap siswa benar-benar menguasai kompetensi dasar. Akibatnya, siswa membawa “utang belajar” dari tahun ke tahun.

Di SMP dan SMA, guru akhirnya menghadapi peserta didik dengan kemampuan yang sangat beragam. Sebagian siap menganalisis teks dan menyelesaikan soal kompleks, sementara sebagian lainnya masih kesulitan membaca dengan lancar.

Budaya Mengejar Nilai

Penyakit kronis pendidikan Indonesia adalah orientasi pada angka.

Sekolah berlomba mengejar tingkat kelulusan. Guru dibebani administrasi dan target kurikulum. Orang tua lebih bangga melihat nilai rapor daripada memastikan anak benar-benar memahami pelajaran.

Dalam situasi demikian, proses belajar berubah menjadi latihan menghadapi ujian. Anak menghafal jawaban, bukan memahami konsep.

Ketika ujian selesai, pengetahuan pun ikut menghilang.

Ketimpangan Pendidikan

Indonesia memiliki tantangan geografis yang besar. Kualitas pendidikan di kota besar sangat berbeda dengan sekolah di daerah terpencil.

Masih banyak sekolah yang kekurangan guru, perpustakaan yang minim, bahan bacaan terbatas, hingga fasilitas belajar yang belum memadai.

Di sisi lain, anak-anak di kota memiliki akses terhadap buku, internet, bimbingan belajar, dan berbagai sumber belajar lainnya.

Perbedaan kesempatan ini semakin memperlebar kesenjangan literasi dan numerasi.

Dampak Pandemi yang Belum Pulih

Pandemi COVID-19 memperparah kondisi tersebut.

Selama pembelajaran jarak jauh, banyak siswa kehilangan kesempatan belajar secara optimal. Tidak sedikit yang sekadar mengumpulkan tugas tanpa benar-benar memahami materi.

Fenomena learning loss yang diperingatkan berbagai lembaga internasional masih terasa dampaknya hingga sekarang, terutama pada kemampuan dasar membaca dan berhitung.

Keluarga Tidak Bisa Lepas Tangan

Sekolah memang memegang peranan penting, tetapi keluarga adalah sekolah pertama bagi anak.

Budaya membaca di rumah, kebiasaan berdiskusi, membacakan cerita, atau mengajak anak berhitung dalam aktivitas sehari-hari merupakan fondasi yang tidak dapat digantikan oleh sekolah.

Ketika rumah sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada sekolah, sementara sekolah menganggap anak sudah siap belajar, maka anaklah yang akhirnya menjadi korban.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Temuan adanya siswa SMA yang belum mampu membaca dan berhitung seharusnya menjadi alarm nasional.

Solusinya bukan mengembalikan syarat calistung sebagai tiket masuk SD ataupun saling menyalahkan antara TK dan SD. Yang dibutuhkan adalah sinkronisasi antarjenjang pendidikan.

TK perlu tetap menjadi ruang bermain yang menumbuhkan kesiapan belajar. Sementara SD, khususnya kelas 1, harus benar-benar menjadi masa transisi dengan pembelajaran literasi dan numerasi yang bertahap, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan anak. Buku ajar dan LKS pun perlu disusun dengan bahasa yang sederhana, ilustrasi yang menarik, serta aktivitas yang membangun kemampuan membaca secara bertahap, bukan langsung membebani anak dengan paragraf panjang.

Pendidikan adalah Investasi Peradaban

Kemajuan suatu bangsa tidak diukur dari banyaknya gedung sekolah atau rumitnya kurikulum, melainkan dari kualitas manusia yang dihasilkannya.

Jika masih ada lulusan SMA yang belum mampu membaca dan berhitung dengan baik, maka persoalannya bukan semata kegagalan individu. Itu adalah cermin bahwa fondasi pendidikan kita masih retak sejak awal.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya mengapa anak SMA tidak bisa membaca. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah sistem pendidikan kita benar-benar memberi mereka kesempatan untuk belajar membaca dengan benar sejak hari pertama mereka masuk sekolah?