Ini kisah seorang ahli ibadah bernama Abu Yazid al-Bustami. Dia dikenal sebagai orang yang dikenal rajin bermunajat pada Allah.
Sebagai seorang sufi yang masyhur melalui kisah-kisah mahabbah-nya kepada Allah, Abu Yazid Al-Busthami yang saat kecil dipanggil Thaifur mempunyai pandangan tersendiri tentang hakikat cinta kepada Allah SWT.
Al-Busthami menyatakan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah tidak lain karena Cinta-Nya kepada hamba tersebut.
Hal ini menyiratkan bahwa sesungguhnya manusia tidak akan dapat mencintai Allah, karena cinta itu sendiri hadir dari Allah untuknya.
Suat ketika Abu Yazid Al-Bustomi, pernah bermunajat kepada Allah. Dalam munajatnya, Abu Yazid bertanya kepada Allah: “Ya Allah. Siapa orang yang akan menemaniku di surga?”
Beberapa sufi memang memiliki kepercayaan diri tinggi mengenai kedekatannya dengan Allah. Abu Yazid adalah salah satunya. Dia percaya pasti masuk surga.
Singkat cerita, munajat Abu Yazid tersebut diberi jawaban melalui mimpi. “Orang yang akan menemanimu di surga adalah orang ini. Dia tinggal di sini.” Sebut saja orang ini namanya Syaikh Nur Hidayatullah Yuzarsif alias Syaikh Dayat.
Lalu Abu Yazid mencari orang sebagaimana isyarat yang disebutkan dalam mimpi. Jarak yang ditempuh Abu Yazid ratusan kilometer.
Namun saat bertemu dengan Syaikh Dayat, Abu Yazid merasa bahwa mimpinya keliru. Sebab Syaikh Dayat berada di tempat orang maksiat. Kalau sekarang mungkin seperti sebuah tempat hiburan dewasa malam.
Abu Yazid lalu menemui Syech Dayat. Dan benar. Di tempat itu ia melihat 40 orang laki-laki sedang mabuk-mabukan. Sementara yang dicarinya tampak duduk di antara mereka. Abu Yazid cepat membalikkan kaki hendak meninggalkan mereka. la merasa kesal dan putus asa. Tetapi seorang memanggilnya.
“Hai Abu Yazid, mengapa engkau tidak masuk rumah ini. Bukankah engkau jauh-jauh datang kemari karena ingin menemuiku? Bukankah kau mencari tetanggamu di surga?” tanya sech Dayat.
Mendengar ucapan orang itu, hati Abu Yazid jadi masygul. Ia tak habis pikir bagaimana Syech Dayat bisa mengetahui maksud kedatangannya, padahal ia belum menyampaikan isi hatinya.
Dengan sedikit ragu Abu Yazid menurutinya masuk ke rumah dan duduk di antara mereka yang sedang mabuk-mabukkan. “Hai Abu Yazid, masuk surga jangan cuma ingin enak sendiri. Itu bukan sifat utama seorang lelaki sepertimu. Dulu ada 80 orang fasiq yang suka mabuk-mabukkan seperti yang engkau lihat saat ini. Kemudian aku berusaha mendekati mereka agar bisa menjadi tetanggaku di surga,”
Kemudian Abu Yazid diperkenalkan kepada 40 orang yang sedang mabuk-mabuk itu. Dengan dakwah dan pembinaan khusus, akhirnya 40 orang itu sadar dan bertaubat. Mereka itulah tetangga Abu Yazid di surga.
Begitulah. Orang berilmu memang terkadang ‘aneh’ dalam menjalani hidup. Tak perlu buruk sangka. Sebab pasti ada sisi baik dalam tingkahnya.
Kita tidak tahu apa niatnya. Yang pasti, baik dan buruk menjadi pilihan masing-masing orang. Berdakwah atau mengajak orang lain kepada kebaikan tentu tidak boleh berhenti hanya pada satu cara. Seperti Syekh Dayat, berkawan dengan para pemabuk. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

