PALU – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan interaksinya dengan massa aksi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tolitoli saat demonstrasi penolakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Tolitoli, Kamis (4/6).

Anwar menegaskan persoalan yang menjadi sorotan publik tersebut sebenarnya telah diselesaikan secara baik-baik antara dirinya dan perwakilan massa aksi.

“Sebelum meninggalkan Tolitoli, beberapa pimpinan demo sudah menemui saya. Mereka meminta maaf, dan saya pun juga menyampaikan permintaan maaf. Selesai. Apalagi yang mau dimasalahkan?” kata Anwar Hafid saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (6/6).

Sebelumnya, beredar potongan video berdurasi 1 menit 29 detik yang memicu polemik di media sosial. Dalam video tersebut terdengar ucapan, “jabat tangan dulu de, kalau tidak kita pulang”, yang kemudian ditafsirkan sebagian pihak sebagai bentuk pemaksaan terhadap mahasiswa peserta aksi.

Menanggapi hal itu, Anwar membantah tudingan bahwa dirinya memaksa mahasiswa untuk berjabat tangan.

Ia menjelaskan, saat itu dirinya justru mendatangi massa aksi dan mengulurkan tangan sebagai bentuk itikad baik. Namun uluran tangan tersebut tidak mendapat respons dari salah satu peserta aksi.

“Saya mengulurkan tangan dua kali untuk berjabat tangan, tapi yang memakai baju HMI tidak mau menerima jabat tangan saya. Jadi saya bilang, kalau begitu saya pulang, tidak usah juga dengar tuntutanmu,” ujarnya.

Menurut Anwar, pernyataannya saat itu muncul sebagai respons spontan karena merasa upaya membangun komunikasi tidak mendapat sambutan.

Ia meminta masyarakat melihat rekaman video secara utuh agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap konteks peristiwa yang sebenarnya.

“Tidak ada saya paksakan. Saya mengulurkan tangan dengan tulus ikhlas, bisa dilihat di rekaman. Karena tidak diterima, saya bilang kalau begitu saya juga tidak mau mendengar tuntutanmu,” jelasnya.

Anwar menambahkan bahwa peristiwa tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan di lapangan. Ia berharap polemik yang berkembang di ruang publik tidak mengaburkan substansi persoalan yang disampaikan mahasiswa terkait aktivitas pertambangan emas tanpa izin di Kabupaten Tolitoli.

Sebelumnya, HMI Cabang Tolitoli meminta Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Tolitoli menyampaikan permohonan maaf secara terbuka menyusul insiden yang terjadi saat aksi demonstrasi tersebut.**