Sungguh, selalu ada hikmah di setiap perintah yang Allah Subhanahu Wata’ala serukan kepada kita umatnya, meskipun jika dipandang berat menjalaninya.

Begitulah perintah berqurban yang didasari kepada kisah sepasang ayah dan anak nan sholeh, nabiyullah Ibrahim dan putranya Ismail alaihi sallam.

Pada hakekatnya berqurban adalah wajib bagi yang mampu. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. “Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir dilapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim]

Qurban” menjadi salah satu contoh aktivitas memberi yang ada dalam Islam. Cukup menarik jika dikaji bagaimana rangkaian ayat dalam surat Al-Kautsar yang berisi perintah berqurban, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran:

Pada ayat pertama surat Al-Kautsar, Allah mengingatkan Rasulullah bahwa nikmat yang sudah diberikan begitu banyak, melimpah, dan terus-menerus mengalir tanpa henti.

Ali ash-Shabuni dalam “Shafwatu at-Tafasir” menyebutkan bahwa kata “Al-Kautsar” adalah satu ungkapan yang menunjukkan puncak dari banyak, atau bisa disebut “sangat-sangat banyak sekali”.

Jika dikaitkan dengan ayat yang lain dalam surat al-, nikmat yang Allah berikan tidak terhitung jumlahnya.

Ayat ini mengingatkan kepada kita semua, bahwasanya pemberi semua nikmat itu adalah Allah SWT, Dzat yang memerintahkan kepada kita untuk berqurban.

Allah yang sudah memberikan segalanya kepada manusia, kemudian hanya memerintahkan untuk mengeluarkan sedikit saja dari apa yang sudah diberikan kepada manusia.

Kalau ada seorang konglomerat yang “uangnya tidak berseri” – karena saking banyaknya – memberikan kepada kita sebuah mobil mewah yang harganya miliaran kemudian ia meminta kita untuk memberikan sepeda motor kepada orang lain, tentu serta-merta kita akan melakukannya.

Bagi kita memberikan motor baru yang hanya puluhan juta rupiah, tidak seberapa dibanding dengan mobil mewah yang sudah diberikan kepada kita. Mengapa perintah berqurban terasa berat oleh kita padahal itu perintah Allah?

Pesan dari ayat pertama surat Al-Kautsar adalah fenomena “kelupaan” pada diri manusia bahwa rezeki dan nikmat yang berlimpah itu adalah anugerah Allah semata. Sementara sebagian manusia memiliki persepsi yang berbeda dengan merasa bahwa semua didapatkan dari usaha dan jerih-payahnya semata.

Dua model kesadaran ini memberikan pengaruh yang besar pada penyikapan saat menerima perintah berqurban. Seseorang yang memiliki kesadaran kuat bahwa rezeki-Nya dari Allah, maka dengan mudah ia akan mengeluarkan sebagian rezekinya untuk berqurban.

Sebagian yang lain yang memiliki kesadaran bahwa rezekinya adalah hasil usaha pribadinya yang siang malam dilakukan, maka akan terasa berat baginya untuk berqurban.

Di samping penyebutan nikmat yang banyak, perintah berqurban juga diiringi dengan qudwah hasanah (teladan yang baik) yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, kekasih Allah yang harus membuktikan ketundukannya terhadap perintah Allah dengan mengikhlaskan anaknya sendiri untuk disembelih.

Seluruh proses perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya sudah cukup menunjukkan kerelaan berqurban bukan dengan sebagian kecil nikmat yang ia miliki, tetapi dengan mengorbankan nikmat terbaik yang Allah berikan kepadanya.

Dengan demikian semakin lengkap betapa ringannya perintah qurban yang Allah sampaikan kepada kita dengan mengingat begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan dan dengan contoh teladan yang luar biasa dari Nabi Ibrahim beserta keluarganya.

Sudah saatnya kita tidak membiarkan setiap momen berqurban 10-13 Dzulhijjah berlalu begitu saja tanpa ada pengorbanan dari apa yang kita miliki. Semoga qurban ini betul-betul mengantarkan kita lebih “qurban” dekat lagi kepada Allah dan semakin “qurban” dekat kepada sesama manusia. Semoga Allah SWT berkahi rezeki setiap orang yang mau berqurban. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)