Setiap kita sebagai seorang manusia pasti akan diuji oleh Allah SWT, lebih-lebih orang yang beriman. Setiap orang beriman akan diuji tentang kesungguhan dan keseriusan keimanan mereka.
Orang yang beriman diuji dengan berbagai musibah (bencana), kesenangan dan kesusahan, kepahitan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, ujian syahwat dan syubhat.
Terhadap sebuah ujian, kesabaran merupakan sikap keniscayaan yang harus dipilih dan digunakan, sebab kalau ia tidak sabar, ia pasti gagal. Kalau sudah gagal maka kerugianlah yang ia peroleh.
Datangnya gempa bumi seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, entah dengan skala atau magnitude ringan maupun lumayan menyentak, termasuk salah satu ujian Allah bagi orang beriman.
Jika kita mengaku hamba Allah yang beriman, maka akan diuji agar menjadi manusia yang beriman dan istiqamah dalam keimanannya. Jika tidak ada iman, tidak akan diuji
Karena itu boleh saja bumi berguncang, tanah longsor yang menenggelamkan harta, rumah dan diri kita sekalipun, iman kita tak boleh goyang, bahkan iman makin kokoh dan kuat.
Sungguh beruntung seorang Muslim itu, jika diberi ujian lalu ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur.
Memang secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa pada dirinya, musibah dalam arti suatu kejadian yang tidak menyenangkan, musibah yang menyusahkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental.
Yang diinginkan oleh setiap orang adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, melegakan dan sebagainya.
Bagi seorang mukmin, musibah yang terjadi dan menimpa dirinya di pandangnya sebagai ujian hidup. Maka dibalik ujian itulah yang perlu direnungkan, apa hikmah di balik ujian itu?
Karena seorang mukmin dengan konsepsi keimanannya akan mampu memandang persoalan dengan sudut pandang yang berbeda dengan umumnya manusia.
Baginya, ukuran baik atau buruknya sesuatu, benar atau salah, suka dan dukanya sesuatu semua dikembalikan nilainya kepada Allah swt.
Hal inilah yang menjadikan seoarang mukmin itu senantiasa berpikir positif dan optimis dalam mengarungi kehidupannya, sekalipun harus menghadapi berbagai ujian, atau kenyataan paling pahit dalam hidupnya, ia tidak akan mudah patah dan berputus asa.
Karena ia yakin bahwa setiap kejadian pastilah sudah dalam kehendak dan takdir Allah swt.
Tetapi, yang tidak boleh kita lupakan adalah ketetapan Allah Ta’ala. Segala sesuatu terjadi di bawah ketatapan Allah. “Katakanlah, Tidak akan menimpa kami segala sesuatu, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah pelindung kami. Dan hanya kepada Allah bertawakkal orang-orang yang beriman.” (At-Taubah : 51)
Maka tepatlah apa yang di sabdakan Nabi saw: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin bahwa semua urusannya baik, yang demikaian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mukmin, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah ia maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan bersabarlah ia maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Hadist ini dapat menjadi landasan berpikir seorang mukmin sehingga ia senantiasa berada pada jalan kebenaran, ia selalu memiliki pandangan yang lurus ke depan, pandangannya kuat dan mendasar, luas menjangkau dan seimbang dalam mensikapi segala sesuatunya.
Dengan demikian, ia akan memiliki kesiapan secara mental, pemikiran, lahir dan batin dalam menghadapi realita dan berbagai kemungkinan yang akan menimpa di dalam hidupnya.
Kita dapat memetik hikmah dari bencana-bencana yang melanda negeri kita. Apakah bencana tersebut diturunkan sebagai ujian, teguran atau azab.
Kalau ujian hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang saleh yang selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan ini biasanya bersifat musibah pribadi.
Namun semuanya tidak ada yang bersifat mutlak karena bisa jadi ada korban yang saleh yang memang diberikan ujian dari Allah agar bertambah keimannya, bisa juga memang ada korban yang diberikan azab atas kejahatannya, dan yang paling mendekati kebenaran di sini yaitu Allah menegur hamba-Nya yang salah dengan musibah agar kembali ke jalan yang benar. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

