Pernahkah Anda menatap sajadah yang terbentang, namun kaki terasa terpaku ke lantai bak memikul beban berton-ton baja? Padahal, mendirikan shalat lima waktu tidak menuntut energi fisik layaknya maraton, tidak pula memakan waktu hingga berjam-jam. Paradoks inilah yang jamak menjangkiti umat Islam modern; sebuah keengganan batin yang muncul tepat ketika azan berkumandang.
Mari kita menelisik lebih jauh bahwa penyebab malas beribadah sering kali bukan sekadar masalah hilangnya hidayah, melainkan bersumber dari apa yang kita konsumsi dan kita perbuat setiap detiknya.
Korelasi Asupan Fisik dan Kelesuan Spiritual
Banyak yang luput menyadari bahwa jasmani adalah kendaraan bagi rohani untuk menunaikan ketaatan. Logika sederhananya, tubuh yang terus-menerus disuplai oleh bahan bakar berkualitas buruk akan rentan mogok di tengah jalan. Hal ini terbukti ketika kita terserang flu ringan saja, antusiasme untuk melaksanakan shalat bisa langsung menyusut tajam. Kondisi fisik yang tidak optimal jelas mendistorsi fokus dan kekhusyukan niat.
Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin, perut merupakan sumber awal bermulanya syahwat dan kemalasan yang bermuara pada tumpusnya nurani. Berikut adalah beberapa jenis asupan yang secara diam-diam mampu meredupkan cahaya iman dan semangat beramal:
- Makanan Haram dan Syubhat: Keinginan beribadah dengan ikhlas senantiasa lahir dari hati yang bersih. Mengonsumsi harta haram, baik secara zat maupun cara perolehannya, ibarat menyuntikkan virus mematikan ke dalam qolbu. Virus ini pelan-pelan mengeruhkan hati, membuat getaran asma Allah tak lagi meresonansi di dalam dada.
- Porsi Makan Berlebihan: Sang Pencipta tidak menyukai segala sesuatu yang melampaui batas, termasuk urusan lambung. Perut yang diisi hingga melar hanya akan memicu kantuk luar biasa dan rasa kram. Medis modern pun sepakat bahwa kekenyangan kronis memicu berbagai sindrom penyakit yang memaksa tubuh menuntut istirahat ekstra.
- Jebakan Makanan Cepat Saji (Junk Food): Kadar kolesterol jahat, natrium tinggi, dan kalori kosong dalam makanan instan membuat tubuh cepat lelah. Dampak langsungnya adalah kelelahan kronis (fatigue) dan kaburnya konsentrasi, membuat takbir hingga salam terasa bagai siksaan fisik semata.
- Konsumsi Daging Merah Secara Berlebih: Daging merah kaya akan lemak hewani yang membutuhkan energi masif dari tubuh untuk dicerna secara sempurna. Alih-alih berubah menjadi tenaga produktif, energi kita justru terkuras habis di saluran pencernaan, meninggalkan sisa kelelahan yang menumpulkan keinginan bergerak mengambil air wudhu.
Tumpukan Maksiat yang Menjadi Residu Hati
Namun, asupan makanan hanyalah sebagian dari akar persoalan. Sisa belenggu yang membuat raga ini berat bersujud adalah akumulasi dosa dan maksiat dari anggota tubuh harian kita. Mata yang dibiarkan liar menikmati tontonan haram, telinga yang asyik menenggak ghibah, serta lisan yang gemar mengiris hati orang lain dan melontarkan kata-kata kotor, seluruhnya memproduksi kotoran yang menutupi kejernihan spiritual.
Dalam konteks penjagaan diri ini, kita sepatutnya mengingat kembali nilai keteladanan agung dari pendiri Alkhairaat, Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Al-Jufri). Beliau senantiasa mendidik dan mencontohkan kepada para santrinya agar ketat menjaga panca indera. Ilmu dan semangat beribadah diyakini tidak akan pernah menetap kuat dalam wadah yang dibiarkan kotor oleh kemaksiatan. Dosa-dosa yang dianggap remeh nyatanya berakumulasi menjadi hijab tebal penghalang antara hamba dan Rabb-nya. Kegelisahan mendera pikiran, sehingga sekadar melaksanakan shalat pun maunya buru-buru selesai tanpa sedikitpun mengecap kenikmatan munajat.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah lama mewanti-wanti betapa krusialnya menjaga komando utama dalam tubuh manusia agar senantiasa peka terhadap panggilan langit:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Namun jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)
Membongkar Belenggu dan Menakar Arah Ruhani
Merasakan beratnya melangkah merespons seruan azan bukanlah takdir permanen yang harus diterima begitu saja, melainkan sebuah alarm keras dari tubuh dan jiwa yang sedang tidak sehat. Membenahi kualitas ibadah harus segera dimulai dari meja makan dan rutinitas layar gawai kita sendiri. Mengganti pola konsumsi dengan nutrisi halalan thayyiban secukupnya, seraya gigih menundukkan pandangan dari hal-hal nirfaedah, adalah langkah fundamental memecah kebekuan spiritual.
Tatkala lisan ini mulai sering dibasahi oleh rintihan istighfar dan ruang perut terjaga dari unsur syubhat, seberat apapun dinamika hidup yang mendera, kita akan mampu menyambut panggilan shalat sebagai sebuah pelukan istirahat yang mendamaikan, bukan lagi beban yang harus dipikul dengan rasa terpaksa.
Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)

