Gubernur Sulteng Minta BKKBN Libatkan Toga dan Toma Sukseskan Program ‘Patujua’

oleh -
Suasana Gubernur Sulteng, Longki Djanggola menerima kunjungan Kaper BKKBN Sulteng, Dra. Maria Ernawati. MM, di ruang kerja Gubernur Sulteng, Senin (16/11). (FOTO: IST)

PALU –  Gubernur Sulawesi tengah (Sulteng), Longki Djanggola meminta kepada Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulteng untuk melibatkan tokoh agama (toga) dan tokoh masyarakat (toma) ikut menyosialisasikan program terintegrasi ‘Patujua’.

“Saya harap BKKBN Sulteng juga menyertakan para tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam program ‘Patujua’ untuk membantu meluruskan persepsi keliru. Karena, akar masalah masih tingginya perkawinan anak di Sulteng antara lain budaya, orangtua dan agama, sehingga masih banyak masyarakat mendukung anaknya menikah muda atau nikah dini,” ucap Gubernur Longki saat menerima audiens Kaper BKKBN Sulteng, Maria Ernawati di ruang kerja Gubernur Sulteng, Senin (16/11).

Menurut Gubernur Longki, pelibatan toga dan toma dinilai mampu meluruskan persepsi keliru, di tengah masyarakat mengenai usia perkawinan. Sehingga, diharapkan perkawinan anak di bawah usia 20 tahun di Sulteng bisa ditekan.

Ia berharap, dengan pelibatan toga dan toma, tidak ada lagi anggapan di tengah masyarakat, bahwa menikahkan anak di usia dini adalah suatu kebanggaan.

Karena, kata Gubenur Longki, jika lebih didalami, ada banyak kerugian akan menimpa pasangan menikah usia anak, misalnya calon bayi berpotensi stunting, kematian ibu melahirkan, perceraian dini, kemiskinan dan putus sekolah.

“Ada anggapan mengawinkan anak di usia dini itu malah suatu kebanggaan,” kata gubernur.

Olehnya itu, Gubernur Longki, sangat mengapresiasi program integrasi ‘Patujua’, yakni program terintegrasi sejumlah organisasi bidang kependudukan dan KB sebagai terobosan Perwakilan BKKBN Sulteng untuk mempercepat penurunan perkawinan anak di Sulteng.

“Paling penting sosialisasinya supaya berjalan fokus dan terarah,” tekan Gubernur.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Dra. Maria Ernawati,MM mengungkapkan, perkawinan anak di Sulteng sudah sangat memperihatinkan. Pasalnya, secara nasional Sulteng menempati peringkat kelima pernikahan anak tertinggi, khususnya perempuan usia di bawah usia 20 tahun dengan persentase 58,9 persen. Bahkan, anak usia di bawah 18 tahun di daerah itu juga masih tinggi, yakni 32 persen.

Peringkat pertama hingga keempat diduduki Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kaper Maria Ernawati membenarkan, berdasarkan hasil mini survey BKKBN, motif agama satu faktor tingginya perkawinan anak di Sulteng, yakni banyaknya masyarakat menjadikan motif agama sebagai alasan terkuat para orangtua mendukung perkawinan anak.

“Katanya karena takut zina maka memilih nikah dini,” ungkap Kaper Maria Ernawati. (YAMIN)