PALU- Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana, memaparkan keberadaan Proyek LNG DSLNG, di Luwuk Sulawesi Tengah (Sulteng) serta kapasitas produksinya 2 juta ton pertahun.

“Donggi-Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) merupakan proyek LNG skala lebih kecil dibandingkan yang lain. Kilang ini memiliki satu train dengan kapasitas produksi sekitar 2 juta ton pertahun,” papar Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana,” dalam kegiatan Halal Bihalal bersama Jurnalis Sulawesi tengah (Sulteng) di Aston Hotel, Jalan Monginsidi, Kota Palu, Sabtu petang.

Ia menuturkan, cadangan gasnya sekitar 2,2 triliun kaki kubik, sehingga termasuk paling kecil diantara proyek LNG di Indonesia.

Dalam operasinya kata dia, gas diperoleh dari lapangan Senoro dan Matindok dalam kondisi “sweet gas” ( gas telah dimurnikan dari kandungan air, sulfur, dan merkuri).

Selain LNG, menurutnya fasilitas tersebut juga menghasilkan kondensat, dijual ke industri Petrokimia di Cilegon.

Ia menuturkan, distribusi LNG dilakukan melalui pengapalan baik kontrak panjang maupun kargo spot. Pembeli utama berasal dari luar negeri Jepang dan Korea Selatan, serta pasar domestik PLN dan Pertamina untuk kebutuhan pembangkit listrik.

Secara umum kata dia, rantai bisnis LNG terdiri dari empat bagian utama, upstream (produksi gas), midstream (Pengolahan menjadi LNG), transportasi (Pengiriman LNG), downstream (Pemanfaatan gas oleh konsumen).

Ia mengatakan, proyek Donggi- Senoro dimulai kontrak bagi hasil (PSC) 1997, perusahaan resmi berdiri pada 2007, diikuti masuknya mitra seperti KOGAS dan Mitsubishi Corporation 2010. Konstruksi dimulai pada 2011 dan fasilitas resmi beroperasi 2015 diresmikan oleh Joko Widodo.

Saat ini terangnya, proyek memasuki fase operasi penuh dengan satu train. Kedepan, usai kontrak jangka panjang berakhir 2007, arah pengembangan proyek menunggu kebijakan dan kesepakatan baru.

Proyek LNG lainnya di Indonesia diantaranya ARUN LNG di Aceh enam train kapasitas produksi 12,3 juta ton. Proyek ini, kini beralih fungsi menjadi terminal regasifikasi guna mendukung pembangkit listrik.

Bontang LNG dengan delapan train, berkapasitas produksi 22,5 juta ton per tahun. Tangguh miliki tiga train setelah ekspansi, kapasitas produksinya 7,6-7,8 ton per tahun, dengan cadangan gas sekitar 14 triliun kaki kubik.

Sementara dalam sambutanya, Relations & Communication Senior Manager DSLNG, Aji Wihardandi, mengatakan hubungan telah terjalin baik antara perusahaan dan jurnalis bisa terus berkelanjutan tidak sebatas kegiatan formal tetapi bisa seperti kegiatan kebencanaan, sosial, ekspedisi dan lainnya.

“Harapannya kita bisa terus berjalan bersama, saling mendukung dalam berbagai kondisi, baik dalam kegiatan positif maupun saat menghadapi tantangan,” katanya.