MAL – Mesin ATM sering terlihat sederhana dari luar. Namun di balik layar dan lapisan bodinya, terdapat sistem keamanan berlapis yang dirancang untuk menghadapi berbagai upaya pembobolan, mulai dari gerinda, bor, las hingga ledakan tabung gas.

Itulah sebabnya banyak aksi pencurian ATM berakhir gagal, memakan waktu lama, atau bahkan membuat uang di dalamnya tidak bisa digunakan.

Dalam dua tahun terakhir, sejumlah kasus pembobolan ATM masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Modus yang digunakan beragam, tetapi perbankan dan industri keamanan terus memperkuat perlindungan fisik maupun digital untuk menjaga uang dan data nasabah tetap aman.

Brankas ATM Dibuat dari Baja dan Material Khusus

Banyak orang mengira ATM hanya dilindungi lembaran besi tebal. Faktanya, bagian penyimpanan uang atau safe ATM dirancang seperti brankas keamanan tinggi.

Brankas ATM umumnya memenuhi standar internasional seperti UL 291 atau EN 1143-1. Konstruksinya menggunakan baja paduan tebal yang dibentuk untuk meminimalkan celah pembongkaran.

Beberapa model juga menggunakan konstruksi multi-lapisan dengan campuran beton khusus atau material tahan panas di antara pelat baja. Kombinasi ini membuat brankas lebih tahan terhadap bor, gerinda, hingga ledakan dalam skala terbatas.

Karena itulah pembobolan ATM biasanya membutuhkan waktu lama dan menghasilkan suara serta getaran yang mudah terdeteksi.

Sensor Getaran Bisa Mendeteksi Gerinda dan Bor

Lapisan keamanan kedua adalah sensor anti-tamper atau anti-perusakan.

Sensor ini mampu mendeteksi berbagai aktivitas mencurigakan seperti pembukaan paksa pintu, getaran akibat gerinda dan bor, hingga perubahan suhu yang tidak normal.

Sistem keamanan ATM menjelaskan bahwa sensor tamper dapat mendeteksi pembukaan pintu, getaran berlebih akibat bor atau gerinda, hingga perubahan suhu ekstrem. Ketika aktif, sistem dapat memutus operasi ATM, menghapus kunci keamanan tertentu, dan mengirim alarm ke pusat pemantauan.

Teknologi serupa digunakan pada detektor seismik yang dipasang langsung pada brankas atau ruang penyimpanan uang.

RISCO Group menjelaskan, “Seismic detectors detect drilling, hammering, and even temperature-based attacks in real time — alerting security teams before criminals reach the cash module and preventing costly damage.”

Lebih dari 100.000 ATM di berbagai negara dilindungi oleh teknologi deteksi seismik semacam ini.

Kunci Enkripsi Bisa Menghapus Diri Sendiri

Perlindungan ATM tidak hanya berbentuk fisik.

Perangkat Encrypted PIN Pad (EPP) yang digunakan nasabah saat memasukkan PIN dilengkapi sistem keamanan kriptografi bersertifikasi PCI PTS.

Jika perangkat mendeteksi upaya pembongkaran, panas berlebih, pengeboran, atau manipulasi fisik lainnya, sistem dapat melakukan proses “zeroize”, yakni menghapus kunci kriptografi yang tersimpan di dalam perangkat.

Langkah tersebut membuat data sensitif tidak bisa diakses meskipun pelaku berhasil membuka perangkat secara fisik.

Anti-Skimming Melindungi Data Kartu Nasabah

ATM modern juga dilengkapi teknologi anti-skimming untuk mencegah pencurian data kartu.

Card reader terbaru memiliki kemampuan mendeteksi anomali pada slot kartu dan menggunakan mekanisme perlindungan aktif untuk mengganggu perangkat skimming yang dipasang pelaku kejahatan.

Selain itu, komunikasi data transaksi dilindungi melalui standar keamanan global seperti PCI PTS, EMV Level 1 dan Level 2, serta enkripsi TLS 1.2 atau yang lebih tinggi.

Tinta Merah Bisa Membuat Uang Curian Tak Bernilai

Salah satu lapisan keamanan yang jarang diketahui publik adalah dye pack atau sistem tinta pengaman.

Perangkat ini dapat menyemprotkan tinta merah permanen ke uang apabila terjadi pembobolan atau perampokan.

Tinta tersebut dirancang menempel kuat pada serat uang, kulit, maupun pakaian sehingga sangat sulit dihilangkan.

ScienceInsights mencatat, “In robberies where dye packs activated, about 71 percent of stolen money was recovered, according to a U.S. Department of Justice survey.”

Adsure Packaging menjelaskan, “The most commonly used dye is 1-methylaminoanthraquinone, also known as Disperse Red 9, which produces an indelible red stain. Along with the dye, many packs also release a tear gas or irritant (such as CS gas) to disorient the thief.”

Beberapa sistem keamanan ATM juga menerapkan ink staining system yang mengotori uang apabila brankas berhasil dirusak secara ekstrem.

Pusat Monitoring Mengawasi ATM Selama 24 Jam

ATM saat ini tidak bekerja secara mandiri.

Operator dapat memantau kondisi perangkat secara real-time melalui sistem monitoring yang mengawasi berbagai parameter, mulai dari suhu mesin, kondisi dispenser uang, status komunikasi jaringan hingga alarm keamanan.

Ketika terjadi gangguan atau aktivitas tidak normal, sistem akan mengirim peringatan ke pusat pengawasan sehingga petugas dapat merespons lebih cepat.

Keberadaan CCTV pada lokasi ATM juga menjadi lapisan tambahan yang membantu identifikasi pelaku apabila terjadi tindak kejahatan.

Regulasi OJK dan BI Menambah Perlindungan

Selain perlindungan fisik dan teknologi, keamanan ATM juga diperkuat melalui regulasi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan bank memperkuat tata kelola teknologi informasi dan ketahanan siber.

OJK menegaskan, “Bank Umum wajib mendokumentasikan secara rinci lokasi penyelenggaraan infrastruktur utama mereka, yang mencakup Pusat Data (Data Center / DC) dan Pusat Pemulihan Bencana (Disaster Recovery Center / DRC).”

Di sisi lain, Bank Indonesia melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 3 Tahun 2026 menetapkan standar keamanan pengolahan data transaksi pembayaran yang mencakup enkripsi dan perlindungan data sensitif.

Aturan tersebut melengkapi standar keamanan sistem pembayaran yang berlaku bagi industri perbankan dan penyedia layanan pembayaran.

Kasus Pembobolan ATM Masih Terjadi, Tetapi Tidak Mudah

Sepanjang 2025 hingga 2026, sejumlah kasus pembobolan ATM masih terjadi di Indonesia.

Di Pangkep, Sulawesi Selatan, tiga pelaku menggunakan gerinda untuk membobol ATM pada Januari 2026. Mesin ATM bahkan terbakar saat proses pembobolan berlangsung.

Di Pesawaran, Lampung, pelaku menggunakan alat las dan tabung gas LPG 3 kilogram untuk merusak ATM.

Kapolres Pesawaran AKBP Alvie Granito Pandhita mengatakan, “Kami menemukan alat las, tabung gas LPG 3 kilogram, dan tali tambang yang diduga digunakan pelaku saat beraksi.”

Kasus lain terjadi di Magetan, Bogor, dan Yogyakarta. Namun beberapa aksi pembobolan berakhir gagal atau tidak berhasil mengakses seluruh uang yang tersimpan karena kombinasi perlindungan fisik, sensor keamanan, pengawasan, dan respons cepat aparat.

Tujuh lapisan keamanan tersebut menunjukkan bahwa ATM modern bukan sekadar kotak besi penyimpan uang. Di dalamnya terdapat kombinasi teknologi mekanis, elektronik, kriptografi, dan sistem pengawasan yang dirancang untuk membuat pembobolan menjadi jauh lebih sulit, lebih lambat, dan lebih berisiko bagi pelaku.