MAL – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menghasilkan gambar, hingga membuat video hanya dalam hitungan menit. Namun di balik kemudahan tersebut, ada sumber daya yang jarang dibicarakan publik: air.
Setiap kali seseorang mengirim prompt ke chatbot AI, membuat ilustrasi digital, atau menghasilkan video berbasis AI, ribuan server di pusat data bekerja tanpa henti. Aktivitas komputasi yang sangat intensif itu menghasilkan panas tinggi sehingga membutuhkan sistem pendinginan dalam skala besar. Di sinilah konsumsi air menjadi isu penting.
Sejumlah penelitian dan laporan terbaru menunjukkan bahwa ledakan penggunaan AI telah mendorong peningkatan kebutuhan air secara global. Air tidak hanya digunakan langsung untuk mendinginkan server, tetapi juga secara tidak langsung melalui pembangkit listrik dan proses manufaktur chip semikonduktor yang menjadi “otak” teknologi AI.
Mengapa Server AI Membutuhkan Banyak Air?
Model AI generatif dijalankan pada perangkat komputasi berdaya tinggi, terutama Graphics Processing Unit (GPU). Rak server AI modern dapat menghasilkan panas jauh lebih besar dibanding server konvensional.
Untuk menjaga suhu tetap stabil, pusat data menggunakan sistem pendinginan yang mengalirkan air ke dekat komponen server. Air tersebut menyerap panas lalu dialirkan menuju menara pendingin (cooling tower).
Di menara pendingin, sebagian air diuapkan untuk membuang panas ke atmosfer. Air yang menguap harus terus diganti dengan pasokan air baru agar sistem tetap bekerja. Karena itulah konsumsi air pusat data dapat mencapai jutaan liter setiap hari.
Air yang digunakan umumnya harus memiliki kualitas tinggi untuk mencegah korosi, penyumbatan, serta kerusakan peralatan. Penggunaan air sembarangan juga berpotensi menimbulkan polusi termal apabila dibuang kembali ke lingkungan dalam kondisi panas.
Berapa Liter Air untuk Satu Kali Chat AI?
Jawabannya ternyata sangat bervariasi, tergantung metode penghitungan, lokasi pusat data, model AI yang digunakan, hingga sumber energi yang memasok listrik ke fasilitas tersebut.
Data 2025–2026 menunjukkan bahwa satu kali percakapan AI dapat mengonsumsi air mulai dari sepersekian mililiter hingga ratusan mililiter jika seluruh rantai pasok energi ikut dihitung.
Ringkasan konsumsi air per aktivitas AI:
| Aktivitas | Estimasi Konsumsi Air |
|---|---|
| Chat/prompt teks | 0,26–5 ml |
| Generate gambar AI | 15–60 ml |
| Generate video AI kompleks | 4,1–4,5 liter |
Google pada 2025 melaporkan median penggunaan air sekitar 0,26 mililiter untuk satu prompt AI berisi sekitar 100 kata. Angka ini setara sekitar lima tetes air.
Sementara itu, estimasi lain menunjukkan satu kueri AI rata-rata membutuhkan sekitar 0,3 hingga 5 mililiter air, tergantung jenis model dan sistem pendinginan yang digunakan.
Perbedaan angka tersebut muncul karena sebagian penelitian hanya menghitung penggunaan air langsung di pusat data, sedangkan metode lain memasukkan konsumsi air dari pembangkit listrik hingga proses produksi perangkat keras.
Generate Foto AI Ternyata Lebih Boros
Kebutuhan komputasi untuk membuat gambar AI jauh lebih besar dibanding sekadar memproses teks.
Berbagai estimasi pada 2026 menunjukkan satu gambar AI dapat menghabiskan sekitar 15–60 mililiter air. Estimasi moderat berada pada kisaran 23–29 mililiter per gambar.
Meski terlihat kecil, jumlah tersebut menjadi signifikan ketika jutaan gambar dibuat setiap hari oleh pengguna di seluruh dunia.
Peningkatan konsumsi terjadi karena model AI harus menghasilkan jutaan piksel secara simultan melalui proses komputasi intensif yang membutuhkan daya listrik dan pendinginan tambahan.
Video AI Menjadi Aktivitas Paling Haus Air
Konsumsi air melonjak drastis ketika AI digunakan untuk menghasilkan video.
Satu video AI berkompleksitas tinggi diperkirakan membutuhkan sekitar 4,1 hingga 4,5 liter air. Angka ini setara beberapa botol air minum kemasan.
Perbedaan yang sangat besar dibanding teks atau gambar disebabkan oleh durasi komputasi yang lebih panjang. Sistem harus merender ribuan frame video dengan beban GPU yang jauh lebih tinggi sehingga kebutuhan energi dan pendinginan ikut meningkat.
Semakin panjang video dan semakin tinggi kualitasnya, semakin besar pula sumber daya yang digunakan.
Konsumsi Air AI Global Sudah Menyamai Industri Air Minum Kemasan
Skala penggunaan AI global membuat dampaknya tidak lagi bisa dianggap sepele.
Sebuah studi pada 2025 memperkirakan konsumsi air yang terkait dengan AI mencapai 312,5 hingga 764,6 miliar liter dalam setahun. Jumlah tersebut setara dengan penggunaan air industri air minum kemasan global.
Greenpeace memperkirakan konsumsi air pusat data di seluruh dunia dapat meningkat dari sekitar 239 miliar liter pada 2024 menjadi 664 miliar liter per tahun pada 2030.
Government Digital Sustainability Alliance (GDSA) bahkan memproyeksikan penggunaan air terkait AI dapat meningkat 5,5 kali lipat pada 2027, dari 1,1 miliar meter kubik menjadi 6,6 miliar meter kubik.
Forum Ekonomi Dunia juga mencatat ekonomi AI global saat ini menghabiskan sekitar 23 kilometer kubik air dan berpotensi melampaui 54 kilometer kubik pada 2050.
Pelatihan Model AI Menghabiskan Ratusan Ribu Liter Air
Beban terbesar sebenarnya tidak berasal dari aktivitas pengguna sehari-hari, melainkan saat perusahaan melatih model AI skala besar.
Pelatihan GPT-3, misalnya, diperkirakan membutuhkan sekitar 700.000 liter air hanya untuk kebutuhan pendinginan.
Proses pelatihan model berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan menggunakan ribuan GPU secara simultan. Semakin besar model yang dibangun, semakin tinggi pula konsumsi energi dan air yang diperlukan.
Ketika Pusat Data Berdiri di Wilayah Krisis Air
Masalah lain muncul karena banyak pusat data dibangun di wilayah yang sudah menghadapi tekanan terhadap sumber daya air.
Sekitar 55 persen pusat data global berada di daerah aliran sungai yang berisiko tinggi mengalami pencemaran atau kekurangan air. Sebanyak 68 persen lainnya berada dekat kawasan penting bagi keanekaragaman hayati.
Di Uruguay, pembangunan pusat data sempat memicu protes ketika izin penggunaan air diajukan di tengah kekeringan parah yang melanda negara tersebut.
Laporan lingkungan juga mencatat pertumbuhan pusat data AI memperburuk tekanan terhadap sumber daya air di sejumlah wilayah seperti Chile dan Afrika Selatan.
Alex de Vries-Gao, penulis laporan tentang jejak karbon dan jejak air pusat data, menyoroti besarnya dampak lingkungan yang muncul dari ekspansi AI.
“Biaya lingkungan untuk ini sangat besar secara nilai absolut, saat ini masyarakat yang menanggung biaya ini bukan perusahaan teknologi, pertanyaannya adalah apakah ini adil? Mereka mengambil banyak keuntungan dari teknologi ini, mengapa mereka tidak membayar sebagian biayanya,” katanya.
Industri Teknologi Mulai Mencari Solusi
Perusahaan teknologi global mulai mencari cara untuk menekan penggunaan air.
Microsoft mengembangkan sistem pendinginan loop tertutup tanpa penguapan air yang akan menjadi standar pada pusat data baru. Sistem tersebut mensirkulasikan cairan pendingin secara terus-menerus sehingga dapat mengurangi penggunaan air lebih dari 125 juta liter per fasilitas setiap tahun.
Google menargetkan pengisian kembali 120 persen air yang digunakan pada 2030. Meta dan Amazon Web Services (AWS) juga mengusung target serupa melalui berbagai program efisiensi dan daur ulang air.
Uni Eropa telah mewajibkan pusat data melaporkan konsumsi air tawar tahunan mereka sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan pengawasan lingkungan.
Sementara itu di Indonesia, pembangunan Pusat Data Nasional (PDN) di Cikarang dan ekspansi fasilitas data center di Batam, Bekasi, serta Tangerang menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur digital terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi berbasis data.
Menggunakan AI Secara Efisien
Meski konsumsi air per satu kali chat relatif kecil, dampaknya menjadi besar ketika dikalikan miliaran interaksi setiap hari di seluruh dunia.
Rahma Auliya mengingatkan agar masyarakat menggunakan AI secara lebih bijak.
“Gunakan AI dengan bijak: Optimalkan untuk produktivitas, bukan sekadar untuk obrolan ringan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika teknologi AI terus berkembang dan semakin banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Di balik kemampuannya menjawab pertanyaan, membuat gambar, atau menghasilkan video, terdapat jejak lingkungan yang ikut menyertai setiap klik dan setiap prompt yang dikirim pengguna.
