LOS ANGELES, MAL – Heart Aerospace berhasil menerbangkan pesawat listrik terbesar di dunia, X1, dalam uji terbang perdana selama 27 menit di Plattsburgh International Airport, New York, Amerika Serikat, pada 12 Agustus 2026.

Pesawat berbobot 11.340 kilogram itu terbang menggunakan tenaga baterai sepenuhnya dengan biaya listrik sekitar 5 dolar AS atau sekitar Rp80.000, membuktikan bahwa pesawat berukuran regional dapat mengudara dengan propulsi listrik murni.

Penerbangan perdana tersebut diumumkan Heart Aerospace pada 14 Agustus 2026. Selama uji terbang, pesawat mencapai ketinggian 1.100 kaki atau sekitar 335 meter di atas permukaan tanah dan melakukan serangkaian pengujian, mulai dari taxiing, lepas landas, pendakian, manuver di udara hingga pendaratan.

X1 merupakan demonstrator pesawat listrik berbasis baterai dengan bentang sayap 32,3 meter, panjang 23,2 meter, dan tinggi 7,3 meter. Sistem propulsi listriknya menghasilkan daya lebih dari 1 megawatt selama penerbangan.

Founder dan CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, mengatakan penerbangan tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan pesawat listrik komersial.

“Melalui penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan penerbangan elektrik dalam skala pesawat komersial,” ujar Forslund.

Ia menilai pesawat komersial listrik berpotensi mengubah ekonomi industri penerbangan dan menurunkan biaya perjalanan udara bagi penumpang.

Meski biaya listrik penerbangan hanya sekitar Rp80.000, angka tersebut hanya mencakup energi yang digunakan selama penerbangan. Biaya tersebut belum memasukkan komponen lain seperti pilot, kru, perawatan, penggunaan bandara, asuransi, maupun penggantian dan degradasi baterai.

Heart Aerospace menjelaskan bahwa X1 bukan pesawat untuk layanan komersial, melainkan pesawat demonstrator yang digunakan untuk menguji teknologi utama, aerodinamika, dan performa penerbangan sebagai dasar pengembangan pesawat produksi berikutnya.

Chief Technology Officer Heart Aerospace, Ben Stabler, mengatakan program X1 memungkinkan perusahaan membangun kemampuan penuh dalam merancang, membangun, menguji, mengoperasikan, dan menyempurnakan pesawat listrik komersial.

Kemampuan tersebut akan diterapkan pada ES-30, pesawat regional hybrid-electric berkapasitas 30 penumpang yang menjadi target produksi perusahaan.

ES-30 dirancang menggunakan kombinasi motor listrik dan mesin pembakaran sebagai range extender. Pesawat ini ditargetkan memiliki jangkauan sekitar 201 kilometer menggunakan baterai saja dan hingga 805 kilometer dengan sistem hybrid. Heart Aerospace menargetkan ES-30 mulai beroperasi pada 2031.

Perusahaan juga memperkirakan biaya operasional ES-30 dapat ditekan hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan pesawat regional konvensional. Sejumlah maskapai, termasuk United Airlines, Air Canada, dan JSX, telah memberikan komitmen untuk model tersebut.

Saat ini, X1 masih beroperasi dalam program uji terbang eksperimental di bawah sertifikat Special Airworthiness Certificate in the Experimental Category (SAC-EC) yang diterbitkan Federal Aviation Administration (FAA). Sertifikat tersebut mengizinkan pengujian penerbangan, tetapi belum memperbolehkan operasi komersial penumpang.

Heart Aerospace menyatakan kampanye uji terbang akan terus dilanjutkan di Plattsburgh guna mengumpulkan data aerodinamika dan sistem propulsi untuk mendukung pengembangan ES-30.