SEORANG pemuda memberanikan diri datang ke masjid. Pemuda yang dulunya begundal. Ia datang bukan untuk membuat keributan, melainkan untuk mencari ketenangan. Niatnya untuk kembali kepada Allah. Sudah dengan baju takwa muslimnya. Namun, sebelum sempat mengenal imam atau memperdalam ilmu lewat kajian, ia lebih dahulu menerima tatapan sinis, bisik-bisik, bahkan teguran yang lebih banyak menghakimi atas masalalunya daripada menyambut niat baiknya. Tidak semua masjid seperti ini, tetapi pengalaman semacam itu nyata dan dialami oleh sebagian orang yang sedang berhijrah.

Ironisnya, masjid yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk kembali kepada Allah justru kadang terasa asing bagi mereka yang baru memulai perjalanan iman. Bukan karena ajaran Islam yang keras, melainkan karena cara sebagian pengurus atau jamaah memperlakukan pendatang. Akibatnya, tidak sedikit pemuda memilih menjauh lagi. Mereka merasa tidak diterima sebelum sempat berubah.

Fenomena ini perlu menjadi bahan muhasabah bersama. Masjid bukanlah milik kelompok tertentu, bukan pula ruang eksklusif bagi mereka yang merasa sudah lebih saleh. Masjid adalah rumah Allah, tempat setiap hamba berhak mengetuk pintu taubat tanpa harus lebih dahulu memenuhi standar sosial yang dibuat manusia.

Rasulullah SAW justru menunjukkan teladan yang berbeda. Beliau menerima orang-orang dengan berbagai latar belakang. Mantan peminum khamar, bekas penyembah berhala, hingga orang yang baru mengenal Islam diterima dengan kelembutan. Nabi memahami bahwa perubahan adalah proses, bukan syarat untuk diterima. Karena itu, dakwah beliau lebih banyak dimulai dengan merangkul daripada menghakimi.

Persoalan lain yang juga mulai terlihat adalah kecenderungan sebagian pengurus masjid lebih sibuk mempertahankan identitas kelompok dibanding mengembangkan manajemen kemasjidan yang inklusif. Program-program masjid kadang disusun agar tetap berada dalam lingkaran jamaah yang sudah ada. Pendatang baru tidak diberi ruang, anak muda jarang dilibatkan dalam kepengurusan, bahkan ide-ide segar sering dianggap mengganggu tradisi yang telah lama berjalan.

Padahal, manajemen kemasjidan seharusnya berbicara tentang bagaimana masjid menjadi pusat pelayanan umat. Keberhasilan sebuah masjid bukan diukur dari seberapa lama kelompok tertentu bertahan mengelolanya, melainkan seberapa banyak masyarakat yang merasa memiliki dan mendapatkan manfaat darinya. Masjid yang hidup adalah masjid yang mampu menyatukan berbagai kalangan, bukan yang hanya nyaman bagi komunitasnya sendiri.

Islam sendiri telah memberikan fondasi yang jelas. Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut selain kepada Allah. Ayat ini tidak membedakan apakah seseorang berasal dari kelompok tertentu, organisasi tertentu, atau baru saja memulai hijrah. Yang menjadi ukuran adalah keimanan dan kesungguhan untuk mendekat kepada Allah.

Pemuda sesungguhnya merupakan aset terbesar masjid. Energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan semangat mereka merupakan modal penting untuk menghadapi tantangan zaman. Sayangnya, ketika ruang partisipasi tertutup, mereka mencari tempat lain untuk bertumbuh. Tidak sedikit akhirnya belajar agama hanya melalui media sosial, tanpa pendampingan yang memadai dari lingkungan masjid.

Sudah saatnya paradigma pengelolaan masjid bergeser. Pengurus tidak cukup hanya menjaga bangunan tetap bersih atau memastikan jadwal imam berjalan tertib. Mereka juga harus membangun budaya menyambut, mendengar, membimbing, dan memberi kesempatan. Senyum kepada pendatang baru, ruang dialog tanpa menghakimi, kajian yang menjawab persoalan anak muda, hingga pelibatan generasi muda dalam kepanitiaan merupakan bagian dari dakwah yang sering kali lebih efektif daripada ceramah panjang.

Masjid yang dicintai Rasulullah bukanlah masjid yang megah tetapi sepi dari generasi muda. Masjid yang hidup adalah masjid yang pintunya terbuka bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah, termasuk mereka yang datang dengan masa lalu yang kelam. Sebab hijrah bukanlah perjalanan yang dimulai setelah seseorang menjadi baik, melainkan proses menjadi lebih baik. Dan tidak ada tempat yang lebih layak menjadi titik awal perjalanan itu selain masjid yang ramah, inklusif, dan dikelola untuk seluruh umat, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.