PALU – Pengamat Perekonomian Universitas Tadulako Palu Muhammad Ahlis Djirimu mengatakan, kemiskinan dominan di kawasan timur Indonesia, Papua, Papua Barat, Maluku, NTT, Gorontalo dan Sulteng (bertambah 7.140 jiwa), memperlihatkan bukan by design karena kemiskinan nasional turun.
“Sejak lama garis kemiskinan naik terus. Namun yang perlu dilakukan bukan menyalahkan mengapa garis kemiskinan naik dan atau data BPS tidak valid. Tapi mencari tahu mengapa beras, rokok, ikan atau sekitar 75 persen disebabkan oleh makanan, minuman, tembakau?” ujar Muhammad Ahlis Djirimu kepada MAL Online, Selasa (18/7).
Salah satu jawabannya kata dia, kalender (pangan, red) di Sulteng tidak pasti, sehingga membuat stok beras juga tidak pasti di Bulog. Sementara itu, permintaan rokok tinggi bahkan cenderung umur perokok semakin muda mulai merokok.
“Rokok penyebab kemiskinan,” tandasnya.
Ironis, kata dia, jika ikan menjadi penyebab kemiskinan, karena satu-satunya provinsi yang punya wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia adalah Sulteng. Kemiskinan justru terjadi pada daerah yang secara potensial merupakan lumbung pangan di Sulteng.
Menurutnya juga, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD) Sulteng tahun 2021-2026, misi tiga, merupakn misi yang diamanahkan untuk menekan angka kemiskinan sampai dengan 7,90 persen pada 2026. Di dalam misi tersebut, ada 75 perorangan, paling banyak program dari sembilan misi Pemerintah Sulteng 2021-2024.
Menurut Ahlis Djirimu, solusinya seperti, meluncurkan Perda penyanggah harga supaya terpenuhi dulu pangan, hortikultura, ikan, ternak di Sulteng kemudian diantarpulaukan atau diekspor. Luncurkan cash for work pada 29.924 RTM, luncurkan asuransi pertanian, ciptakan entrepreneurship pada rumah tangga miskin/ RTM desil 3 (rentan miskin, red), pada sisi kelembagaan ekonomi. Lakukan pemberdayaan khusus 31.448 RTM perempuan, 15.670 difabel, 16.760 nelayan perikan tangkap dan budidaya, serta lakukan pemberdayaan berbasis pesantren dan rumah ibadah.
Reporter: IRMA
Editor: NANANG

