PALU – Selama Februari 2022, Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,52 persen. Sementara Februari 2022 itu juga, laju inflasi tahun kalender sebesar 0,58 persen dan inflasi year on year (Februari 2022 terhadap Februari 2021) sebesar 2,31 persen.
Deflasi ini dipengaruhi oleh penurunan indeks harga/inflasi, terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (2,73 persen), kelompok transportasi (0,89 persen), kelompok kesehatan (0,64 persen), kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,63 persen); dan kelompok perlengakapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,05 persen).
“Deflasi Kota Palu disumbangkan oleh andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau (0,72 persen), kelompok transportasi (0,12 persen), kelompok kesehatan (0,02 persen), kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,04 persen), dan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang nilainya sangat kecil di bawah 0,01 persen,” ujar Kepala BPS Kota Palu GA Naser kepada media alkhairaat online, Rabu (9/3).
Sementara kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,04 persen); kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (0,15 persen); kelompok pakaian dan alas kaki (0,63 persen); kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,97 persen); dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,45 persen). Sedangkan kelompok pendidikan pada bulan ini relatif stabil.
Beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap deflasi Februari 2022 antara lain: ikan selar/ikan tude (0,22 persen),minyak goreng (0,18 persen) angkutan udara (0,16 persen), ikan cakalang/ikan sisik (0,15 persen), beras (0,14 persen), ikan ekor kuning (0,07 persen), biaya pulsa ponsel (0,06 persen), cabai rawit (0,05 persen); kacang panjang (0,02 persen) dan kol putih/kubis (0,02 persen).
Sementara itu, beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi Februari 2022 antara lain: tukang bukan mandor (0,20 persen); pasir (0,06 persen); sewa rumah (0,03 persen), kangkung (0,03 persen); wortel (0,03 persen), tv berwarna (0,02 persen); susu bubuk balita (0,02 persen); jagung manis (0,02 persen), pemeliharaan/service (0,02 persen) dan sabun mandi (0,02 persen).
Reporter: Irma
Editor: Nanang

