PALU, MAL — Dunia keamanan siber digemparkan oleh kemampuan Spyware Pegasus buatan NSO Group asal Israel yang mampu menyusup ke perangkat ponsel tanpa memerlukan interaksi atau klik dari korban.
Perangkat lunak mata-mata ini dilaporkan telah menargetkan ribuan individu di seluruh dunia, mulai dari jurnalis, aktivis, hingga kepala negara.
Pegasus merupakan perangkat lunak pengintai kategori mercenary spyware yang dirancang untuk mengekstraksi data secara rahasia dan sistematis. Spyware Pegasus dapat mengakses pesan terenkripsi, email, foto, hingga mengaktifkan mikrofon dan kamera ponsel secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Fitur yang paling diwaspadai dari perangkat ini adalah zero-click, di mana infeksi terjadi melalui eksploitasi celah keamanan pada aplikasi pesan atau proses latar belakang.
Dalam laporan terbaru, Citizen Lab mengungkapkan bahwa metode ini memungkinkan penyerang mendapatkan akses penuh ke perangkat tanpa korban melakukan tindakan apa pun.
“Pegasus memungkinkan penyerang melakukan apa pun yang dapat dilakukan pengguna, mulai dari mengakses data pribadi seperti catatan, gambar, bahkan pesan terenkripsi. Pegasus juga dapat mengaktifkan mikrofon dan kamera ponsel secara diam-diam,” tulis laporan resmi dari Citizen Lab.
Investigasi bertajuk Pegasus Project pada 2021 mengungkap adanya 50.000 nomor telepon yang diduga menjadi calon target pemantauan. Daftar tersebut mencakup 189 jurnalis, 85 aktivis hak asasi manusia, serta ratusan politisi, termasuk tiga presiden dan sepuluh perdana menteri dari berbagai negara.
Meskipun NSO Group tidak merilis harga resmi, estimasi biaya lisensi Spyware Pegasus diperkirakan mencapai US$500 ribu hingga US$2 juta per paket. Nilai tersebut sering kali dianalogikan setara dengan biaya pembangunan seratus ruang kelas baru bagi sarana pendidikan masyarakat.
Di Indonesia, isu penyadapan sempat dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto, namun alat yang terdeteksi dalam kasus tersebut adalah Lawful Interception Management System (LIMS).
Secara teknis, LIMS bekerja melalui infrastruktur jaringan operator telekomunikasi, sementara Spyware Pegasus menyerang langsung unit ponsel target.
“Infeksi zero-click Spyware Pegasus tidak akan terlihat oleh target dan memberi penyerang akses penuh ke perangkat,” jelas peneliti keamanan tersebut.
Hingga saat ini, perangkat lunak buatan Israel ini tetap menjadi ancaman paling invasif yang menghantui privasi warga di era digital.
