Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat Rasulullah SAW yang memiliki nama asli Abdullah bin Utsman bin Amir (Abu Quhafah), berkata, “Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima.”

Jika tidak waspada, lima kegelapan itu dapat menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke dalam panasnya api neraka. Namun, barang siapa teguh memegang lima pelita tersebut, ia akan selamat di dunia dan akhirat.

Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah SAW bersabda, “Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Al-Baihaqi).

Manusia yang berorientasi semata-mata pada dunia dapat menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Akan tiba suatu saat ketika seluruh manusia bersatu padu melawan kalian dari segala penjuru, seperti halnya berkumpulnya manusia mengelilingi meja makan.”

Kemudian, seseorang bertanya, “Katakanlah, wahai Rasulullah, apakah jumlah Muslim pada saat itu sedikit?”

Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan, kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut dari hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian wahn.”

Seseorang kemudian bertanya, “Apa itu wahn?”

Rasulullah SAW menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Fenomena inilah yang banyak kita temukan saat ini. Umat Islam memiliki jumlah yang besar, tetapi terkadang kehilangan kewibawaannya. Hal ini dikaitkan dengan dua penyakit berbahaya yang dapat menimpa umat Islam, yakni cinta dunia dan takut mati.

Untuk memerangi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, Abu Bakar memberikan pelita berupa takwa. Dengan takwa, manusia diharapkan lebih terarah dalam menempuh jalan Allah SWT, yakni jalan kebenaran.

Kegelapan kedua adalah perbuatan dosa. Kegelapan ini dapat diterangi dengan taubat nasuha, yakni pertobatan yang sungguh-sungguh.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, apabila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa, memohon ampun, dan bertobat, bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik noda itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad).

Keadaan tersebut berkaitan dengan ar-ran, yakni penutup hati akibat perbuatan dosa, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin [83]: 14.

Kegelapan ketiga adalah alam kubur. Kegelapan ini diterangi dengan siraj atau pelita berupa kalimat laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah dengan ikhlas, ia akan masuk surga.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa wujud keikhlasannya?”

Beliau menjawab, “Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”

Kegelapan keempat adalah alam akhirat. Untuk menghadapinya, manusia harus memperbanyak amal saleh. QS Al-Bayyinah [98]: 7–8 menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh merupakan sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka adalah surga Adn, tempat mereka kekal di dalamnya.

Kegelapan kelima adalah shirath, yakni jembatan yang harus dilalui di atas neraka. Pelitanya adalah keyakinan yang teguh terhadap Allah SWT dan perkara-perkara gaib yang diberitakan dalam ajaran-Nya, termasuk kehidupan setelah kematian.

Dengan keyakinan tersebut, manusia diharapkan semakin bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal amal untuk menghadapi kehidupan akhirat.

Semoga kita mampu berpegang teguh pada lima pelita dalam wasiat Abu Bakar ini. Kelimanya menjadi pengingat untuk menerangi kegelapan hidup dan mengantarkan kita menuju kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)