Kita terlahir sebagai umat terbaik. Al-Qur’an menegaskan hal itu. Simaklah QS Ali Imran (3) ayat 110 yang menyebutkan, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Para mufasir sependapat bahwa kata “kamu” pada awal ayat tersebut merujuk kepada umat Islam. Selanjutnya, ayat itu menjelaskan alasan umat Islam dikategorikan sebagai umat terbaik, yakni karena mereka memikul tanggung jawab untuk menyuruh kepada kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran. Dengan demikian, jika kedua tanggung jawab itu ditinggalkan, predikat sebagai umat terbaik pun akan kehilangan maknanya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Kalian sebanding dengan 70 umat dan kalian adalah sebaik-baik dan semulia-mulia umat bagi Allah.” (HR Tirmidzi). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa kemuliaan umat Islam tidak lain karena kemuliaan Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling terhormat dan rasul paling mulia di sisi Allah SWT. Beliau diutus Allah dengan syariat yang sempurna dan agung, yang belum pernah diberikan kepada nabi dan rasul sebelumnya.
Oleh karena itu, derajat terbaik di kalangan umat Islam melekat pada mereka yang konsisten mengikuti ajaran Rasulullah SAW dengan terus-menerus melakukan amar makruf nahi mungkar, sebagaimana telah diteladankan oleh manusia paripurna itu (QS Al-Ahzab [33]: 21).
Amar makruf nahi mungkar tentu memiliki cakupan yang sangat luas. Karena itu, setiap Muslim berpeluang mengamalkan perintah agung tersebut. Amar makruf dapat diwujudkan dengan mengajak manusia menuju keimanan dan ketakwaan melalui cara-cara yang telah disyariatkan Allah SWT (QS An-Nahl [16]: 125).
Sementara itu, nahi mungkar dapat diamalkan dengan mengajak umat Islam menjauhi hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah SWT. Dalam hal ini, Rasulullah SAW juga telah memberikan panduan yang sangat jelas kepada umatnya.
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia mengubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaklah dia mengingkarinya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Berangkat dari hal tersebut, predikat umat terbaik akan tetap melekat pada umat Islam apabila mereka melaksanakan amar makruf nahi mungkar secara beriringan. Tidak sekadar menyerukan kebaikan, tetapi mengabaikan kemungkaran. Sebaliknya, tidak pula hanya mencegah kemungkaran, tetapi mengabaikan kewajiban mengerjakan kebaikan.
Imam Qatadah, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa suatu waktu Umar bin Khattab pernah berkata, “Barang siapa yang ingin menjadi bagian dari umat ini (umat terbaik), maka ia harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan Allah dalam ayat tersebut.” (HR Ibnu Jarir).
Namun demikian, amar makruf nahi mungkar dapat berjalan efektif apabila umat Islam sendiri memiliki identifikasi diri yang jelas dengan ajaran Islam secara keseluruhan atau secara kafah. Sebab, mustahil sapu yang kotor dapat digunakan untuk membersihkan lantai yang juga kotor.
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk konsisten mengikuti sunah beliau. Jika tidak, seseorang ibarat penjual obat yang hanya mampu menawarkan obat penyembuh, tetapi tidak dapat mengobati penyakitnya sendiri.
Apabila keteladanan itu jauh dari kehidupan umat Islam, bukan hanya kegagalan yang akan diperoleh, melainkan juga ancaman kemurkaan Allah SWT (QS As-Saff [61]: 3). Sebab, secara prinsip, amar makruf nahi mungkar mensyaratkan keteladanan yang menjadi akar dari segala kemuliaan. Wallahu a’lam
Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)
