NAGEKEO, MAL – Pemulihan pascagempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pemulihan psikologis anak dan remaja agar kembali bersemangat mengikuti pembelajaran.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menghadirkan pelatihan keterampilan bagi guru dan siswa sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. Kegiatan yang dipusatkan di SMKN 1 Aesesa Selatan itu melibatkan empat sekolah, yakni SMKN 1 Aesesa Selatan, SMKN 1 Aesesa, SMKN 1 Nangaroro, dan SMK St. Yosep Mbay.
Gempa yang melanda Nagekeo pada 15 Agustus 2026 menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat setempat. Setelah masa tanggap darurat berakhir pada 27 September 2026, pemulihan juga perlu menyentuh aspek psikologis, termasuk rasa aman, konsentrasi, dan motivasi belajar pelajar.
Dalam program tersebut, pelatihan keterampilan ditempatkan sebagai medium trauma healing. Melalui aktivitas pembelajaran yang interaktif, guru dan siswa diharapkan dapat kembali membangun interaksi sosial, kepercayaan diri, serta semangat untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, mengapresiasi keterlibatan TBIG dalam kegiatan tersebut. Ia menilai partisipasi dunia usaha dalam kegiatan sosial dapat membantu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk melalui edukasi dan pelatihan keterampilan.
“Kami mengapresiasi Tower Bersama selaku dunia usaha yang tidak hanya bergerak di bidang bisnis, tetapi juga hadir dalam kehidupan kemasyarakatan dan kemanusiaan dengan memberikan pelatihan keterampilan,” ujar Simplisius Donatus.
Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An, mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada kondisi fisik. Anak-anak dan generasi muda juga perlu mendapat dukungan agar kembali merasa aman dan percaya diri dalam menjalani kegiatan belajar.
“Dalam kondisi pascabencana, pemulihan tidak hanya berbicara mengenai kondisi fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda, dapat kembali memiliki rasa aman, semangat, dan kepercayaan diri untuk melanjutkan aktivitasnya. Karena itu, kami mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian mereka melalui kegiatan pembelajaran dan pelatihan,” ujarnya.
Menurut Lie Si An, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk kembali berinteraksi sekaligus memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat setelah program berakhir.
Pelibatan empat sekolah juga membuka kesempatan bagi peserta untuk memperluas interaksi dan membangun jejaring antarsekolah. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga mendukung pemulihan semangat belajar pelajar setelah bencana.
Melalui program tersebut, pendidikan menjadi salah satu pendekatan dalam pemulihan pascagempa Nagekeo, dengan harapan anak-anak dan remaja dapat kembali menjalani proses belajar serta menatap masa depan dengan lebih percaya diri.***
