PALU, MAL – Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Sulawesi Tengah mendorong industri pertambangan tidak berhenti pada hilirisasi, tetapi terus menciptakan nilai tambah dan daya saing.

Ketua FKTT Sulawesi Tengah, M Najmi Ar Ramadan, mengatakan hilirisasi harus menjadi bagian dari transformasi sumber daya alam menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Apakah setelah hilirisasi kita berhenti di fase itu, atau kita mencoba menciptakan nilai baru dari proses hilirisasi? Transformasi sumber daya harus menjadi nilai dan menciptakan daya saing,” kata Najmi dalam Seminar Industri Pertambangan bertajuk “Teknologi, Inovasi, Keselamatan dan Keberlanjutan Menuju Pertambangan Masa Depan” di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) Palu, Rabu.

Ia mengatakan Indonesia memiliki sekitar 21 persen cadangan nikel dunia yang terbagi dalam dua jenis utama, yakni limonit dan saprolit.

Najmi menilai potensi tersebut perlu dikelola melalui inovasi dan teknologi agar memberikan manfaat ekonomi lebih luas. Industri pertambangan juga dapat membentuk ekosistem ekonomi di sekitar wilayah operasi, mulai dari tenaga kerja, vendor hingga usaha masyarakat.

“Banyak barang dan jasa yang berproses di industri tersebut. Ada tenaga kerja, vendor, suplai ikan, dan berbagai jasa lokal. Itu yang harus dilihat sebagai nilai tambah,” katanya.

Najmi juga mengingatkan mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja di tengah perkembangan teknologi dan Revolusi Industri 4.0.

Ia mendorong mahasiswa tidak terpaku pada satu profesi, tetapi mampu membaca peluang dan berinovasi sesuai kompetensi.

“Kalau cita-citanya tidak ingin menjadi ahli geologi atau pengusaha, ingin menjadi YouTuber, silakan. Tetapi harus berinovasi dan membuat konten yang bermanfaat serta memberikan edukasi,” ujarnya.

Menurut Najmi, pembangunan industri pertambangan membutuhkan kolaborasi perusahaan, pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat.

“Bukan perusahaan saja yang berpikir, bukan juga pemerintah. Harus ada kolaborasi sebagai aktor utama dalam melahirkan proyek yang menghasilkan keluaran,” katanya.

Ia juga menekankan keselamatan kerja dan konservasi mineral. Menurutnya, kepala teknik tambang memiliki peran sebagai agen keselamatan sehingga tanggung jawab keselamatan tidak hanya dibebankan kepada departemen keselamatan dan kesehatan kerja (HSE).

Dalam konservasi mineral, perusahaan perlu mengelola mineral yang belum ekonomis agar tetap dapat dimanfaatkan ketika teknologi dan kondisi pasar memungkinkan.

“Bukan seberapa banyak sumber daya yang kita eksploitasi, tetapi apa yang kita bangun dari sumber daya tersebut,” ujarnya.

Dalam seminar yang sama, Kepala Teknik Tambang PT Bukit Makmur, Gunawan Wibisono, memaparkan pengelolaan lingkungan dan penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) di wilayah operasional perusahaan.

“Untuk lingkungan, yang kami lakukan adalah pengelolaan air dan sedimen, kualitas udara dan emisi, rehabilitasi lahan, serta persemaian,” jelasnya.

Gunawan mengatakan perusahaan melakukan pemantauan pH, pengambilan sampel dan pengukuran debit air secara rutin. Pengelolaan sedimen dilakukan melalui pemeliharaan fasilitas sedimentasi.

Untuk pengendalian debu, perusahaan menggunakan water truck di area pit, jalan angkut (hauling road) dan titik yang berpotensi menimbulkan debu. Pemantauan emisi dilakukan secara berkala dengan melibatkan penyedia jasa.

Pada reklamasi, kegiatan meliputi penataan lahan, penataan tanah pucuk, penanaman, pemeliharaan dan pemantauan revegetasi. Perusahaan juga memiliki persemaian untuk mendukung kegiatan tersebut.

Pengelolaan keanekaragaman hayati dan pemantauan kawasan hutan turut dilakukan melalui koordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Untuk penerapan ESG, perusahaan menerapkan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, tindakan korektif dan pelaporan.

“Kami melakukan rencana implementasi, monitoring, evaluasi, tindakan korektif, kemudian membuat laporan,” katanya.

Di bidang sosial, perusahaan menjalankan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), antara lain melalui dukungan infrastruktur, pendidikan dan peningkatan kesadaran lingkungan. Pengelolaan sampah dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali Utara.

Gunawan menyebut hasil pemantauan kualitas air, termasuk parameter pH dan total suspended solids (TSS), masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan.