PALU, MAL – Program Studi S1 Teknik Geologi Universitas Tadulako (Untad) kini menjadi program studi dengan peminat terbanyak ketiga di Fakultas Teknik Untad.

Dekan Fakultas Teknik Untad, Andi Arham Adam, mengatakan Teknik Geologi sebelumnya berada di urutan keenam dari 12 program studi S1 di fakultas tersebut. Kini, posisinya naik ke peringkat ketiga.

“Yang pertama Informatika, kedua Teknik Sipil, dan ketiga Teknik Geologi,” kata Andi dalam Workshop Pertambangan dan Geologi di Auditorium Fakultas Teknik Untad, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Palu, Rabu.

Menurut Andi, peningkatan minat tersebut cukup signifikan mengingat Teknik Geologi tergolong sebagai program studi yang relatif muda dibandingkan sejumlah prodi lain di Fakultas Teknik.

Bahkan, jumlah peminat Teknik Geologi kini telah melampaui sejumlah program studi yang lebih dahulu berdiri, seperti Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Arsitektur.

“Ini mungkin karena memang ada perbaikan-perbaikan yang dilakukan dan juga karena eranya sekarang berkembang lagi,” ujarnya.

Fakultas Teknik Untad juga tengah merintis integrasi bidang Teknik Geofisika ke dalam fakultas tersebut. Andi menilai keberadaan Teknik Geofisika bersama Teknik Geologi akan memperkuat kedua bidang keilmuan yang memiliki keterkaitan erat.

Selain peningkatan minat mahasiswa, Andi menekankan pentingnya aspek keselamatan atau safety, terutama bagi mahasiswa yang nantinya bekerja di sektor pertambangan.

“Bagaimana supaya mengurangi dan meminimalkan kecelakaan di lapangan. Dunia pertambangan adalah dunia yang berisiko karena menggunakan alat berat dan kegiatan lapangan. Karena itu, safety harus diperhatikan,” katanya.

Menurut dia, aspek keselamatan juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam proses akreditasi Fakultas Teknik, termasuk penerapan keselamatan di lingkungan kampus dan pembelajaran mata kuliah keselamatan bagi mahasiswa.

Dalam workshop tersebut, Andi juga mengapresiasi kontribusi Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Sulawesi Tengah terhadap pendidikan mahasiswa. Selain memberikan pembekalan mengenai dunia pertambangan, FKTT Sulteng menyerahkan hibah mikroskop untuk mendukung proses pembelajaran.

Andi berharap dukungan tersebut dapat terus berlanjut sehingga kompetensi mahasiswa semakin sesuai dengan kebutuhan dunia industri pertambangan.

“Jika mahasiswa kita memiliki kompetensi yang bagus, yang untung juga teman-teman di lapangan. Mereka akan kita arahkan sesuai dengan kompetensinya karena bekalnya sudah bagus ketika nanti terjun sebagai tenaga kerja di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua FKTT Sulawesi Tengah, M Najmi Ar Ramadan, mengatakan organisasi tersebut dibentuk dari kegelisahan para Kepala Teknik Tambang (KTT) untuk memperkuat posisi dan kompetensi mereka di lingkungan perusahaan.

Menurut Najmi, FKTT mulai dibentuk pada 2022 sebagai wadah memperkuat fondasi internal KTT sekaligus meningkatkan kepercayaan manajemen terhadap peran KTT.

Ia menjelaskan, KTT memiliki tanggung jawab besar terhadap keberhasilan produksi dan pengelolaan pertambangan. Ketika terjadi kegagalan dalam proses produksi, KTT dapat menjadi pihak yang pertama kali dievaluasi.

Karena itu, Najmi mendorong mahasiswa yang memilih bidang geologi dan pertambangan mulai mempersiapkan kompetensi sejak di bangku kuliah.

Ia menyebut bidang geologi dan pertambangan juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil yang memiliki potensi sumber daya mineral.

“Adik-adik beruntung bisa mengambil jurusan geologi atau tambang. Hanya ada dua jurusan di Indonesia yang bisa melihat Indonesia dari dekat,” ujarnya.

Ia mencontohkan peluang bekerja di wilayah pertambangan seperti Pulau Obi, Maluku Utara, yang menuntut pekerja beradaptasi dengan kondisi wilayah dan lingkungan kerja yang berbeda.

Najmi berharap mahasiswa geologi dan pertambangan dapat menjadi generasi yang mampu menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan sumber daya mineral Indonesia.

“Kalian adalah generasi berikutnya yang menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan sumber daya alam mineral di sini,” katanya.