PALU, MAL – Digitalisasi dan penerapan teknologi menjadi salah satu perhatian dalam Jambore Pertambangan Sulawesi Tengah 2026 di Sriti Convention Hall, Jalan Durian, Kota Palu.

Kegiatan yang mengusung tema “Pertambangan Ramah Lingkungan untuk Generasi Mendatang dan Peradaban Berkelanjutan” itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan sektor pertambangan dan energi.

Koordinator Keselamatan Pertambangan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ari Hindaryanto, mengatakan inovasi dan teknologi menjadi salah satu penggerak keberlanjutan ekonomi di sektor pertambangan.

Menurut Ari, perkembangan teknologi memungkinkan kegiatan pertambangan disimulasikan melalui pemanfaatan Internet of Things (IoT), pengolahan data dalam jumlah besar, komputasi cepat, serta akses informasi yang semakin mudah.

“Dengan teknologi ini diharapkan kita bisa memprediksi kondisi di suatu tambang dan mengurangi biaya operasional. Kita bisa memitigasi risiko yang mungkin muncul sehingga risiko tersebut tidak terjadi,” kata Ari.

Ia mengatakan perkembangan teknologi juga memungkinkan penggunaan sistem otomatisasi dan robot dalam sejumlah kegiatan pertambangan. Transformasi tersebut, menurutnya, tidak semata-mata menjadi ancaman bagi pekerja tambang, tetapi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasi.

Ari menegaskan penerapan teknologi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Pembukaan kegiatan pertambangan tetap harus memperhatikan upaya mitigasi terhadap dampak lingkungan.

“Bukan berarti pembukaan tambang akan selalu merusak lingkungan. Konsepnya adalah selama mitigasinya ada, kegiatan pertambangan tetap dapat berjalan,” ujarnya.

Selain teknologi, Ari menyoroti digitalisasi pelayanan pemerintah, termasuk proses perizinan dan pengawasan sektor pertambangan.

Ia menyebut sejumlah sistem digital digunakan untuk mencegah tumpang tindih perizinan, mendukung perencanaan tambang, serta mencatat kegiatan produksi.

Menurutnya, sistem tersebut masih terus disempurnakan untuk meningkatkan kepatuhan pelaku usaha.

“Memang beberapa sistem belum sempurna, tetapi ada upaya untuk terus melakukan perbaikan,” katanya.

Ari menyebut keberlanjutan pertambangan membutuhkan keterlibatan pemerintah, badan usaha, dan masyarakat.

“Ini bukan titik akhir, melainkan perbaikan yang terus-menerus melalui integrasi bisnis, teknologi cerdas, dan pemberdayaan manusia,” ujarnya.

Ia juga menekankan penerapan Good Mining Practice (GMP) atau kaidah teknik pertambangan yang baik. Penerapannya mencakup aspek teknis pertambangan, keselamatan, konservasi sumber daya mineral, serta perlindungan lingkungan.

Menurut Ari, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pertambangan harus didukung data yang akurat. Data tersebut menjadi dasar dalam penyusunan perencanaan tambang, termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).