PALU, MAL- Praktisi pertambangan nasional Jeffrey Mulyono menekankan pentingnya pengelolaan pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan keselamatan, lingkungan, konservasi sumber daya dan pemberdayaan masyarakat.

Hal itu disampaikan Jeffrey dalam Jambore Pertambangan Sulawesi Tengah 2026 bertema “Pertambangan Ramah Lingkungan untuk Generasi Mendatang dan Peradaban Berkelanjutan” di Sriti Convention Hall, Jalan Durian, Kota Palu.

Menurut Jeffrey, sejak awal perusahaan harus memikirkan kondisi wilayah setelah kegiatan pertambangan berakhir. Perencanaan tersebut, kata dia, harus tercermin dalam pengelolaan lingkungan dan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

“Yang namanya AMDAL itu bukan hanya main-main. Memang harus dipikirkan dengan baik. Ketika kita menambang sekarang, harus dipikirkan 30 tahun yang akan datang, ketika tambang itu berhenti, bumi yang kita buka mau menjadi seperti apa,” kata Jeffrey.

Ia menyoroti persoalan limpasan air dari wilayah pertambangan yang berpotensi memengaruhi lingkungan sekitar. Menurutnya, air dari area tambang harus dikelola terlebih dahulu sebelum dialirkan ke lingkungan.

“Kalau ada air keruh mengalir dari tambang, harus kita kelola dengan baik. Siapa yang bilang tidak bisa? Bisa,” ujarnya.

Jeffrey juga menekankan pentingnya konservasi sumber daya mineral. Menurut dia, nikel, emas dan batu bara terbentuk melalui proses yang sangat panjang sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara bertanggung jawab.

“Tuhan memberikan nikel, emas, dan batu bara yang terbentuk miliaran tahun untuk kehidupan kita sekarang. Jangan pernah mengabaikan cadangan yang ada. Semua yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis harus kita lakukan secara ekonomis,” katanya.

Di sisi lain, Jeffrey menyoroti tantangan masyarakat yang hidup di sekitar wilayah pertambangan. Menurutnya, ketika perusahaan menguasai wilayah yang sebelumnya menjadi ruang hidup masyarakat, harus ada pemikiran mengenai sumber penghidupan masyarakat setelah aktivitas tambang berakhir.

“Masyarakat bertanya, ‘Lalu saya mau jadi apa?’ Mereka juga mau hidup,” katanya.

Karena itu, ia mendorong agar aktivitas pertambangan turut melahirkan komoditas dan pusat-pusat ekonomi baru yang dapat bertahan setelah operasi tambang selesai.

“Operasi pertambangan pada akhirnya akan berakhir, tetapi dampak yang ditinggalkan tidak harus berakhir. Pertambangan akan berakhir, tetapi dampaknya dapat bertahan selamanya,” ujarnya.

Jeffrey mencontohkan Kota Singleton di Australia yang menurut pengalamannya berkembang di sekitar aktivitas pertambangan. Sejumlah pekerja, kata dia, kemudian membangun usaha sendiri sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan setelah mereka tidak lagi bekerja di perusahaan tambang.

Menurut Jeffrey, pola serupa dapat dikembangkan di Indonesia agar daerah pertambangan tidak sepenuhnya bergantung pada aktivitas ekstraktif.

Ia juga mengingatkan agar program community development tidak berhenti pada pemberian bantuan jangka pendek. Program pemberdayaan, menurutnya, harus diarahkan agar masyarakat mampu membangun kemandirian ekonomi.

“Community development sering disalahpahami. Bukan tentang memberi atau bantuan jangka pendek, melainkan pemberdayaan masyarakat hingga mereka menjadi mandiri,” katanya.

Jeffrey mengatakan keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak semestinya hanya diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi dari kemampuan masyarakat mempertahankan dan mengembangkan hasil program secara mandiri.

“Mulailah dari yang kecil. Ajarkan bagaimana mereka bisa menghidupi dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia menggambarkan pemberdayaan masyarakat sebagai proses bertahap. Pada lima tahun pertama, perusahaan lebih banyak memberikan pendampingan dan merangsang masyarakat untuk berpikir. Lima tahun berikutnya, masyarakat mulai dilibatkan dalam berbagai inisiatif, sebelum masuk pada tahap pengembangan hingga mampu berpartisipasi secara mandiri.

Jeffrey menyebut pertambangan berkelanjutan harus dibangun di atas empat pilar, yakni keselamatan (safety), lingkungan (environment), konservasi sumber daya (resources conservation), dan pengembangan masyarakat (community development).

“Pertambangan bukan hanya tentang bagaimana sumber daya diambil, tetapi bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” katanya.

Ia meminta para Kepala Teknik Tambang (KTT) tidak hanya berfokus pada aspek teknis operasi, tetapi juga memastikan perlindungan lingkungan dan manfaat bagi masyarakat berjalan beriringan.

“Teman-teman KTT, apa pun komoditas pertambangannya, lingkungan harus dijaga dengan baik,” ujarnya.

Menurut Jeffrey, ketika lingkungan terjaga dan masyarakat memperoleh manfaat secara berkelanjutan, aktivitas pertambangan dapat meninggalkan warisan positif bagi daerah meskipun cadangan mineral pada akhirnya habis.

“Pertanyaan utamanya bukan sekadar berapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar nilai yang mampu kita ciptakan dari sumber daya tersebut,” katanya.