PALU, MAL – Universitas Tadulako (Untad) menyoroti kemampuan komunikasi, etika dan pengetahuan umum yang masih menjadi tantangan bagi sebagian alumninya dalam menghadapi proses seleksi kerja.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Untad, Dr. Ir. Sagaf, M.P., mengatakan, sejumlah alumni masih terlalu berfokus pada kompetensi akademik sesuai bidang keilmuan, namun kurang memperhatikan keterampilan pendukung yang turut dinilai dalam proses rekrutmen.
Hal tersebut disampaikan Sagaf saat kegiatan Untad Digital Career Ready: Pelatihan Teknologi Informasi, Artificial Intelligence (AI), dan Digital Skills bagi Kesiapan Alumni Universitas Tadulako Tahun 2026, di Gedung Media Center Lantai 2 Untad, Selasa-Rabu (1-2/9).
“Yang paling banyak tidak lulus dari evaluasi kami, anak alumni terlalu fokus di akademik bidang ilmunya tetapi lupa ilmu umum, bahasa Indonesia, serta etika dan motivasi saat wawancara,” ujar Sagaf.
Menurutnya, kemampuan akademik bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang diterima bekerja. Cara berkomunikasi, bersikap, menyampaikan maksud serta menunjukkan tanggung jawab juga menjadi bagian penting dalam proses seleksi.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian Untad dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
“Jangan berpikir bahwa menjadi pintar hari ini dan diterima di masyarakat itu mutlak ditentukan kompetensi keilmuan. Itu sudah 60-40. Skill seperti ini yang harus menambah kompetensi saudara ketika menjadi alumni,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Untad menggelar pelatihan yang membekali calon alumni dengan keterampilan teknologi informasi, AI dan digital skills, sekaligus pemahaman mengenai kesiapan karier.
Pelatihan tersebut juga dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa pada perkembangan pola rekrutmen kerja yang semakin berbasis teknologi, mulai dari pendaftaran secara daring hingga proses seleksi administrasi.
Sejumlah instansi dan mitra strategis dilibatkan sebagai narasumber, di antaranya Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kota Palu, BPD HIPMI Sulawesi Tengah, OJK Provinsi Sulawesi Tengah, PT Telkom Palu serta PT Bank Mandiri KC Palu Samratulangi.
Ratusan mahasiswa calon alumni mengikuti kegiatan tersebut bersama jajaran pimpinan universitas, Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Ketua UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan serta Tim Pokja Kemahasiswaan.
Sagaf juga mengingatkan mahasiswa agar mampu menggunakan perkembangan teknologi AI secara bijak. Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan berpikir, bukan menggantikan peran manusia.
“AI itu hanya merupakan kerangka pikir. Jangan sampai AI lebih pintar daripada kita,” tegasnya.
Ia menilai kemampuan manusia dalam memahami tempat, waktu, ruang dan situasi tetap menjadi bagian penting yang harus dipertahankan di tengah perkembangan teknologi.
Sagaf menambahkan, upaya memperkuat keterampilan nonakademik merupakan bagian dari tanggung jawab Untad untuk meningkatkan daya saing dan serapan alumninya di dunia kerja.
“Tanggung jawab Universitas Tadulako adalah melihat bagaimana serapan alumni di dunia kerja. Untuk memastikan alumni Untad diterima, salah satu upayanya adalah memberikan pelatihan non-akademik seperti ini,” pungkasnya.*
