Di hampir setiap sudut kota, kita mudah menemukan sosok tukang parkir. Mereka berdiri di depan warung, minimarket, pasar, rumah makan, hingga tempat-tempat yang sebenarnya tidak dirancang sebagai lahan parkir. Dengan peluit, rompi, atau sekadar gerakan tangan, mereka membantu mengatur kendaraan yang datang dan pergi. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu terlihat sederhana, bahkan sering dianggap tidak membutuhkan keahlian khusus.

Namun, jika dilihat dari perspektif pendidikan, tukang parkir menyimpan banyak pelajaran tentang kehidupan. Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas, di balik meja, atau melalui buku pelajaran. Ada pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman, dari interaksi dengan orang lain, dan dari tuntutan untuk menyelesaikan persoalan nyata setiap hari. Tukang parkir adalah salah satu contoh bagaimana manusia belajar melalui pekerjaan dan lingkungan sosialnya.

Seorang tukang parkir harus membaca situasi dengan cepat. Ia perlu memperkirakan apakah sebuah kendaraan bisa masuk, di mana kendaraan harus berhenti, dan bagaimana mengatur ruang yang terbatas agar tidak menimbulkan kekacauan. Semua itu membutuhkan kemampuan mengamati, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Dalam bahasa pendidikan modern, kemampuan semacam ini justru termasuk keterampilan penting yang sering disebut sebagai kecakapan hidup.

Menariknya, banyak keterampilan tersebut tidak diperoleh melalui pendidikan formal. Seorang tukang parkir mungkin tidak pernah mengikuti pelatihan manajemen ruang, tetapi setiap hari ia belajar mengatur ruang. Ia mungkin tidak pernah belajar komunikasi publik secara akademik, tetapi setiap hari harus berhadapan dengan puluhan karakter manusia yang berbeda. Di situlah kita melihat bahwa pengalaman dapat menjadi guru yang sangat keras sekaligus sangat efektif.

Tukang parkir juga mengajarkan tentang disiplin. Mereka harus datang pada waktu tertentu, berdiri berjam-jam, memperhatikan kendaraan, dan tetap bekerja meskipun cuaca tidak bersahabat. Pekerjaan tersebut menuntut konsistensi karena penghasilan mereka sangat bergantung pada kehadiran dan pelayanan. Dari sini, pendidikan dapat belajar bahwa disiplin bukan sekadar datang tepat waktu ke sekolah, melainkan kemampuan menjalankan tanggung jawab ketika tidak ada yang mengawasi.

Ada pula pelajaran tentang tanggung jawab. Ketika seseorang menitipkan kendaraan, secara sosial ia berharap kendaraan tersebut dibantu untuk keluar atau masuk dengan aman. Tukang parkir harus berhati-hati karena kesalahan kecil dapat menyebabkan kendaraan tergores atau bahkan kecelakaan. Tanggung jawab seperti ini menunjukkan bahwa pekerjaan apa pun memiliki konsekuensi dan setiap tindakan manusia selalu berhubungan dengan kepentingan orang lain.

Persoalan lain yang menarik adalah kemampuan berkomunikasi. Tukang parkir berhadapan dengan pengemudi yang sabar, terburu-buru, ramah, bahkan kadang marah. Mereka harus menyampaikan instruksi dengan singkat dan mudah dipahami, sering kali hanya melalui gerakan tangan atau peluit. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan seseorang bagaimana berbicara, tetapi juga bagaimana membaca situasi, memahami orang lain, dan memilih cara komunikasi yang tepat.

Di sisi lain, keberadaan tukang parkir juga memperlihatkan persoalan pendidikan yang lebih besar. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Sebagian orang mungkin berhenti sekolah lebih awal karena tekanan ekonomi, kebutuhan keluarga, atau terbatasnya akses. Ketika kemudian mereka bekerja di sektor informal, masyarakat sering melihat pekerjaannya, tetapi lupa bertanya tentang perjalanan pendidikan yang membentuk pilihan hidupnya.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menggunakan pendidikan sebagai ukuran untuk menilai seseorang. Gelar akademik memang penting, tetapi gelar tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana, lebih bertanggung jawab, atau lebih mampu memahami kehidupan. Sebaliknya, seseorang yang bekerja di jalanan bukan berarti tidak memiliki pengetahuan. Bisa jadi ia memiliki pengetahuan praktis yang tidak pernah tertulis di buku.

Tukang parkir juga mengingatkan kita tentang makna belajar sepanjang hayat. Setiap hari membawa situasi baru: kendaraan baru, pelanggan baru, masalah baru, dan kondisi lingkungan yang berubah. Agar pekerjaannya berjalan baik, ia harus terus menyesuaikan diri. Inilah inti dari pembelajaran sepanjang hayat: kemampuan untuk terus belajar karena kehidupan tidak pernah memberikan persoalan yang sepenuhnya sama.

Dari sudut pandang sekolah, fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi. Apakah sekolah sudah cukup mengajarkan anak menghadapi persoalan kehidupan yang nyata? Apakah siswa hanya dilatih mendapatkan nilai ujian, atau juga dilatih mengambil keputusan, bekerja sama, berkomunikasi, mengelola konflik, dan bertanggung jawab? Sebab setelah meninggalkan sekolah, mereka akan berhadapan dengan dunia yang jauh lebih kompleks daripada soal pilihan ganda.

Namun, menjadikan tukang parkir sebagai contoh bukan berarti kita harus meromantisasi kemiskinan atau pekerjaan informal. Pendidikan justru harus membantu seseorang memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup. Jika seseorang menjadi tukang parkir karena memang memilih pekerjaan tersebut, itu adalah pilihan yang patut dihormati. Tetapi jika seseorang terpaksa bekerja karena tidak memiliki akses pendidikan dan kesempatan ekonomi yang memadai, persoalannya bukan sekadar pilihan individu, melainkan juga persoalan sosial.

Di sinilah pendidikan memiliki tugas yang lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan. Pendidikan seharusnya memperluas kemungkinan hidup seseorang. Anak dari keluarga miskin harus memiliki kesempatan untuk bermimpi menjadi guru, dokter, petani, pengusaha, teknisi, seniman, atau apa pun yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Pendidikan yang baik tidak boleh membuat pekerjaan tertentu terlihat hina, tetapi juga tidak boleh membiarkan kemiskinan menjadi alasan seseorang kehilangan pilihan.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Tukang parkir, petugas kebersihan, pedagang kaki lima, buruh, dan pekerja informal lainnya adalah bagian dari ekosistem kehidupan kota. Mereka mungkin tidak memiliki kantor ber-AC atau meja kerja yang nyaman, tetapi pekerjaan mereka tetap membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan tanggung jawab. Menghormati mereka bukan berarti mengagungkan pekerjaan tersebut, melainkan mengakui martabat manusia yang berada di balik setiap pekerjaan.

Pada akhirnya, tukang parkir mungkin bukan sosok yang pernah kita bayangkan sebagai “guru”. Tetapi setiap hari, tanpa papan tulis dan tanpa buku pelajaran, mereka memperlihatkan sejumlah pelajaran penting tentang disiplin, komunikasi, tanggung jawab, adaptasi, dan kerja keras. Pendidikan semestinya membuat kita mampu melihat pengetahuan bukan hanya di sekolah, tetapi juga di jalan, pasar, kebun, bengkel, dan tempat kerja lainnya. Sebab barangkali persoalan terbesar pendidikan bukan hanya bagaimana membuat manusia pandai membaca buku, melainkan bagaimana membuat manusia mampu membaca kehidupan.