SIDOARJO, MAL – Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui adanya kelalaian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berkaitan dengan kasus gangguan kesehatan yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo.
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Ia mengakui adanya kelalaian dalam proses pelabelan dan distribusi makanan yang menjadi bagian dari pelaksanaan program MBG.
Pengakuan tersebut disampaikan setelah BGN melakukan investigasi lapangan dan administrasi bersama Dinas Kesehatan serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM).
Dari hasil investigasi, ditemukan sejumlah ketidaksesuaian terhadap standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam pelabelan wadah makanan dan waktu distribusi.
Tidak seluruh wadah makanan diberikan label secara individual. Selain itu, makanan ditemukan didistribusikan lebih dari empat jam setelah matang atau telah melewati batas waktu aman konsumsi.
BGN juga menemukan ketidaksesuaian antara waktu makanan selesai dimasak, waktu pengiriman dan waktu makanan dikonsumsi di lapangan.
“Kami meminta maaf atas kejadian ini. Ada kelalaian dalam pelabelan dan distribusi yang harus menjadi evaluasi serius,” ujar Sudaryono.
Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Talang Angin/Kalitengah, Sidoarjo, selama 30 hari untuk evaluasi dan perbaikan.
BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG yang bersangkutan dari jabatannya. Bahkan, pihak yang nantinya terbukti lalai dalam pelaksanaan MBG dapat diproses secara hukum.
Untuk memastikan rangkaian kejadian, BGN menggunakan sistem pemantauan Radar MBG guna merekonstruksi kronologi pelaksanaan, mulai dari proses produksi hingga distribusi makanan.
Meski telah menemukan pelanggaran SOP, BGN belum menyimpulkan penyebab medis pasti dari kasus tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan pasien masih ditunggu untuk memastikan agen penyebab, termasuk kemungkinan bakteri atau toksin.
Dalam insiden tersebut, BGN mencatat 512 santri terdampak. Sebanyak 312 santri telah pulang dalam kondisi sembuh, sedangkan 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 120 lainnya masih dalam observasi berdasarkan pembaruan data awal.
BGN memastikan tidak terdapat korban meninggal dunia.
Sudaryono mengatakan, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap SPPG yang terlibat, tetapi juga diarahkan untuk memperbaiki sistem distribusi dan pelabelan di seluruh rantai pelaksanaan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.*
