SIDOARJO, MAL – Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 512 santri terdampak dalam kasus keracunan massal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 312 santri telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Sementara 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 120 lainnya masih dalam tahap observasi berdasarkan pembaruan data BGN.
BGN memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam insiden yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
Informasi mengenai adanya korban meninggal dunia yang sempat beredar di media sosial telah dikonfirmasi sebagai hoaks.
Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, penanganan terhadap para santri terdampak terus dilakukan bersama pihak terkait. Pemerintah juga melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab insiden tersebut.
Hasil investigasi BGN bersama Dinas Kesehatan dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai makanan ke Ponpes Manbaul Hikam.
Temuan tersebut antara lain berkaitan dengan sistem pelabelan wadah makanan serta keterlambatan distribusi. Makanan disebut didistribusikan lebih dari empat jam setelah matang sehingga telah melewati batas waktu aman konsumsi.
Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian antara waktu makanan selesai dimasak, waktu pengiriman dan waktu makanan dikonsumsi di lapangan.
Meski demikian, BGN belum menetapkan penyebab medis secara spesifik dalam insiden tersebut.
Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan pasien masih dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri atau toksin yang kemungkinan menjadi penyebab.
BGN juga membantah informasi mengenai adanya kontaminasi ulat atau belatung pada makanan. Berdasarkan verifikasi internal BGN Jawa Timur, informasi tersebut dinyatakan sebagai hoaks.
Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar untuk memastikan penyebab pasti kasus yang berdampak terhadap ratusan santri tersebut.*
