PALU, MAL – Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah (Salimah) Kota Palu kembali menggelar Kajian Kamis Sore Bersama (Karisma) bertema “Solusi Bersama Al-Qur’an” pada Kamis (20/08).

Kegiatan ini bertujuan mendorong muslimah dekat Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan solusi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, berlangsung di Masjid An-Naafi, Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Palu.

Narasumber Suriyati, S.ThI, M.Psi, dalam kajiannya menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber petunjuk, ketenangan, dan kebahagiaan bagi manusia. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diwujudkan dengan membacanya, tetapi juga dengan memahami dan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, membantu muslimah dekat Al-Qur’an dalam keseharian.

Suriyati menjelaskan terdapat tiga kunci kebahagiaan hidup. Yakni dekat dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an, dekat dengan Rasulullah SAW, serta memiliki pemahaman yang benar mengenai kehidupan akhirat.

“Al-Qur’an adalah keharusan dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, hati menjadi lebih tenang dan jiwa mendapatkan ketenteraman,” kata Suriyati dalam kajiannya.

Menurutnya, membaca Al-Qur’an secara rutin, termasuk dengan suara yang terdengar, dapat memberikan efek menenangkan bagi tubuh dan membantu menciptakan suasana psikologis yang lebih positif.

Selain mendekatkan diri kepada Allah SWT, umat Islam juga dianjurkan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW dan memperbanyak selawat.

Kunci kebahagiaan berikutnya, kata Suriyati, adalah memahami kehidupan akhirat. Dunia hendaknya dipandang sebagai tempat untuk mengumpulkan bekal melalui amal saleh, sementara kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang kekal.

Dalam kesempatan tersebut, Suriyati juga mengajak peserta untuk mengenali kondisi hati masing-masing. Menurutnya, kondisi hati dapat terlihat dari respons seseorang terhadap ibadah dan perbuatan maksiat. Hati yang sehat akan membuat seseorang merasa ringan dan antusias dalam menjalankan amal saleh, seperti salat dan bersedekah.

Sebaliknya, kata dia, ketika melakukan kesalahan atau maksiat, hati yang sehat akan merasakan kegelisahan dan penyesalan, ini menjadi indikator penting bagi muslimah dekat Al-Qur’an.

Sementara hati yang sakit atau perlu diperbaiki ditandai dengan munculnya rasa berat ketika menjalankan ibadah maupun bersedekah.

“Ketika hati mulai merasa berat untuk beribadah, jangan dibiarkan. Perbanyak zikir-zikir ringan yang mudah diamalkan, seperti Subhanallahi wa bihamdihi,” pesannya.

Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan hati merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual seorang Muslim. Hati yang terjaga akan menjadi sumber kekuatan untuk terus melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Suriyati juga menguraikan tiga langkah penting dalam membangun kedekatan dengan Al-Qur’an, yakni tilawah (membaca rutin), tahfiz (menghafal), dan tadabbur (memahami dan menerapkan makna).

“Jangan berhenti pada membaca. Al-Qur’an perlu dipahami dan direnungkan agar nilai-nilainya hadir dalam kehidupan kita,” tuturnya.

Ketua Salimah Kota Palu, Erny Susilowaty, menyampaikan Karisma menjadi salah satu ruang pembinaan keislaman bagi para muslimah untuk memperkuat keimanan dan memperoleh bekal.

Melalui Kajian Kamis Sore Bersama, ia berharap semakin banyak muslimah menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan, bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai sumber petunjuk dalam membangun keluarga, menjalani kehidupan sosial, serta mempersiapkan bekal menuju akhirat. ***