FENOMENA berkembangnya pengobatan Islami, bekam, herbal, ruqyah, dan tibbun nabawi patut diapresiasi sebagai bagian dari ikhtiar masyarakat dalam menjaga kesehatan. Namun, ada satu persoalan yang perlu dikritisi: munculnya sebagian praktisi yang setelah mengikuti pelatihan justru merasa memiliki kemampuan mendiagnosis berbagai macam penyakit.
Belajar satu metode terapi tidak otomatis berarti memahami seluruh persoalan kesehatan manusia. Seseorang yang mengikuti pelatihan bekam, misalnya, tentu dapat memiliki keterampilan dalam teknik bekam. Tetapi itu tidak serta-merta membuatnya mampu menentukan penyebab berbagai penyakit.
Begitu pula dengan herbal atau ruqyah. Jangan sampai karena baru mempelajari satu pendekatan, semua keluhan kemudian dijelaskan dengan pendekatan tersebut. Sakit kepala dianggap akibat gangguan tertentu, tubuh yang lemah dikaitkan dengan masalah spiritual, atau berbagai penyakit langsung diberi kesimpulan tanpa pemeriksaan yang memadai.
Manusia terlalu kompleks untuk dijelaskan hanya dengan satu metode.
Persoalan menjadi lebih sensitif ketika praktik tersebut membawa nama Islam. Identitas “pengobatan Islami” atau tibbun nabawi dapat membuat masyarakat memberikan kepercayaan yang sangat besar. Karena itu, klaim seorang praktisi seharusnya justru semakin hati-hati.
Tibbun nabawi tidak semestinya dijadikan legitimasi untuk mengklaim bahwa satu metode mampu menyelesaikan semua penyakit. Demikian pula ruqyah tidak berarti setiap keluhan kesehatan harus dianggap sebagai gangguan jin atau sihir. Ada penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dokter dan penanganan medis.
Masalah lain muncul ketika pengalaman beberapa pasien kemudian dianggap sebagai bukti bahwa sebuah metode pasti efektif untuk semua orang. Padahal pengalaman kesembuhan seseorang tidak otomatis membuktikan bahwa penyebab penyakitnya telah diketahui atau bahwa metode tersebut akan memberikan hasil yang sama pada orang lain.
Begitu pula dengan istilah “diagnosis”. Menebak penyakit berdasarkan tanda-tanda yang terlihat, cerita singkat pasien, atau pengalaman pribadi bukanlah hal yang sama dengan melakukan pemeriksaan secara profesional. Kesalahan dalam memberikan kesimpulan bukan sekadar kesalahan istilah, tetapi dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam mencari pertolongan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seorang praktisi mulai membuat klaim yang terlalu besar: seolah-olah dirinya mampu menemukan akar hampir semua penyakit dan memiliki jawaban untuk berbagai kondisi yang sebenarnya berada di luar kompetensinya. Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal metode, melainkan soal kerendahan hati dan tanggung jawab.
Praktisi yang baik bukanlah mereka yang selalu mengatakan mampu menemukan penyakit dan menyembuhkannya. Justru ia mampu mengatakan, “Ini bukan wilayah kompetensi saya. Sebaiknya diperiksa lebih lanjut.”
Mengakui keterbatasan bukan berarti kurang Islami. Sebaliknya, itu adalah bentuk amanah. Orang yang sedang sakit berada dalam posisi rentan dan mudah mempercayai orang yang dianggap memiliki ilmu. Karena itu, kepercayaan tersebut tidak seharusnya dimanfaatkan untuk membangun citra sebagai penyembuh yang paling hebat.
Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin mudah mendiagnosis orang lain.
Sertifikat pelatihan adalah bukti bahwa seseorang telah belajar, bukan bukti bahwa ia sudah mengetahui segalanya.
