Dalam budaya kita, berbakti kepada orang tua sering dipahami secara sederhana: anak harus selalu menuruti keinginan orang tua.

Tidak boleh membantah. Tidak boleh menolak. Tidak boleh berbeda pendapat.

Nasihat seperti ini lahir dari niat baik untuk menjaga adab kepada orang tua. Namun, persoalannya menjadi rumit ketika seorang anak menghadapi orang tua yang manipulatif, merendahkan, terlalu mengontrol, atau terus menguras emosinya.

Apakah berbakti berarti harus menerima semuanya?

Tidak.

Islam memang menempatkan orang tua pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah menyembah-Nya.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
(QS. Al-‘Ankabut: 8)

Namun ayat yang sama memberikan batas penting: jika orang tua mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan Allah, anak tidak wajib menaati, meskipun tetap diperintahkan memperlakukan keduanya dengan baik.

Prinsip yang sama ditegaskan dalam QS. Luqman: 15: jangan menaati orang tua dalam perkara yang salah, tetapi tetap mempergauli keduanya dengan cara yang baik.

Artinya, Islam membedakan antara ketaatan dan penghormatan.

Kita bisa tidak mengikuti keinginan orang tua tanpa menghina mereka.

Kita bisa berbeda pendapat tanpa membentak.

Kita bisa mengatakan “tidak” tanpa menjadi anak durhaka.

Bahkan dalam keadaan tertentu, menjaga jarak dari interaksi yang terus-menerus melukai dapat menjadi cara menjaga hubungan agar tidak semakin buruk.

Nabi ﷺ juga bersabda:

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa ketaatan memiliki batas.

Karena itu, istilah “durhaka” jangan digunakan sembarangan untuk membungkam anak yang sedang menetapkan batas.

Seorang anak tetap wajib menjaga tutur kata dan penghormatan kepada orang tua. Tetapi orang tua juga tidak seharusnya menggunakan statusnya untuk mengendalikan seluruh kehidupan anak, merendahkan pasangan anak, memaksakan kehendak, atau terus-menerus melakukan tekanan emosional.

Berbakti bukan berarti menyerahkan seluruh kendali atas hidup.

Birrul walidain berarti memperlakukan orang tua dengan baik, menjaga kehormatan mereka, membantu ketika mampu, dan tidak menyakiti mereka dengan ucapan maupun tindakan.

Tetapi berbakti tidak berarti membiarkan diri terus disakiti.

Islam mengajarkan adab, tetapi juga keadilan.

Maka seorang anak boleh berkata dengan lembut:

“Saya menghormati Ayah dan Ibu, tetapi untuk hal ini saya memilih berbeda.”

Boleh mengatakan:

“Saya memahami keinginan orang tua, tetapi keputusan ini harus saya pertanggungjawabkan sendiri.”

Dan boleh pula mengambil jarak ketika kedekatan justru terus melahirkan konflik dan luka—selama tetap menjaga adab dan tidak memutus hubungan tanpa alasan yang dibenarkan.

Sebab menjadi anak yang baik bukan berarti menjadi manusia tanpa batas.

Dan menjadi orang tua tidak berarti selalu benar.

Birrul walidain mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik kepada orang tua. Tetapi Islam tidak pernah menjadikan berbakti sebagai alasan untuk membenarkan kezaliman, manipulasi, atau perlakuan yang merusak.

Hormati orang tua.

Jaga ucapan.

Bantu ketika mampu.

Doakan mereka.

Tetapi ketika harus berbeda, berbeda-lah dengan adab.

Karena berbakti tidak selalu berarti berkata “iya”. Kadang-kadang, berbakti juga berarti berkata “tidak” dengan cara yang tetap menghormati.