SIGI, MAL – Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Aljufri, menegaskan bahwa perjuangan Alkhairaat adalah bagian integral dari pembangunan Indonesia dan tidak boleh hanya menjadi beban negara.

Dalam Haul Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri pada Sabtu (08/08), Habib Alwi menyerukan kepada seluruh pihak untuk turut bertanggung jawab membantu membesarkan Alkhairaat, mengingatkan pentingnya meneruskan perjuangan Guru Tua dengan karya, persatuan, ilmu, dan amal.

Habib Alwi menjelaskan bahwa haul ini bukan majelis biasa, melainkan majelis Al-Wafa (Kesetiaan), Al-Ahd (Janji), dan Ad-Dua (Doa). Kesetiaan ini mencakup kesetiaan pada ilmu yang diajarkan, yang diwujudkan dengan pengamalan, serta kesetiaan pada perjuangan beliau pada Alkhairaat dan majelis taklim sebagai bagian dari dakwah.

“Kesetiaan itu meliputi tiga hal, setia pada ilmu beliau, artinya kita amalkan yang beliau ajarkan, itu wujud cinta nyata. Yang kedua, setia pada perjuangan beliau pada Alkhairaat, dan majelis Taklim, merupakan dakwah, perlu kita jaga jangan sampai padam. Kalau belum bisa membantu Alkhairaat, kita jangan sekali-kali menjadi penghalang, dan mengganggu Alkhairaat untuk maju,” tegas Habib Alwi.

Ia juga meminta para pengurus Alkhairaat di berbagai tingkatan, mulai dari desa hingga kabupaten/kota, untuk aktif menjaga aset, mengelola agar produktif, serta mendata madrasah yang membutuhkan perhatian fisik maupun mencari solusi pendanaannya.

Habib Alwi menekankan agar bantuan diberikan dengan perhatian dan doa, bukan dengan fitnahan yang dapat mengganggu perjuangan Guru Tua dan Alkhairaat.

Pesan pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri, yang disampaikan kembali oleh Habib Alwi, berbunyi: “Barang siapa yang mengganggu menghalangi jalan kami, menghalangi jalan-jalan pejuang-pejuang guru-guru Alkhairaat di lapangan, pengurus-pengurus Alkhairaat di daerah, untuk mengembangkan Alkhairaat, maka busur senjata di antara dua keningnya.”

Pesan ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba menghambat pengembangan Alkhairaat dan perjuangan Guru Tua.

Kesetiaan ketiga adalah dengan doa bagi mereka yang telah wafat, karena amal terputus kecuali doa anak yang saleh atau murid yang memanfaatkan ilmunya. Majelis haul ini juga disebut sebagai majelis Al-Ahd, tempat memperbarui janji kesetiaan kepada para pendahulu untuk melanjutkan ajaran dan pesan yang telah disampaikan.

“Kita berjanji kepada Allah SWT di majelis haul ini dan orang saleh tempat turunnya rahmat, dan Allah SWT gerakkan hati kita terdorong hati kita untuk melanjutkan perjuangan beliau,” kata Habib Alwi.

Ia mengingatkan bahwa Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri dahulu berjanji untuk umat dan mengisi waktunya dengan manfaat. Kehadiran dalam haul bukan hanya untuk bersedih, melainkan untuk memperbarui janji kesetiaan kepada beliau dan perjuangan Alkhairaat.

Majelis ini juga merupakan majelis doa, dihadiri orang-orang saleh, di mana rahmat Allah SWT turun saat mengingat perjuangan mereka.

“Kita sadar Habib Segaf telah meninggalkan kita semua dan sudah mempertanggungjawabkan segala apa yang dia jalani selama hidup,” ujar Habib Alwi. “Kini giliran kita, maka kita meminta Khusnul khatimah, dan berdoa agar perjuangan beliau dilanjutkan, agar Alkhairaat makin berkah.”

“Saya tidak melihat satu majelis yang doa itu di ijabah ketika Allah SWT melebihi tempat yang di mana disebutkan cerita-cerita orang saleh,” demikian riwayat Imam Sufyan Atsauri yang disampaikan Habib Alwi. Oleh karena itu, di tempat ini diajak untuk berdoa agar dapat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah.

Habib Alwi mengajak seluruh keluarga besar Alkhairaat untuk menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menjadi perekat bangsa.

“Janganlah bangga hanya karena kita dilahirkan sebagai Abnaul khairat, tapi banggalah apabila Alkhairaat merasakan manfaat dari kehadiran kita,” tutupnya