PALU – Direktur RSUD Undata, drg. Herry Mulyadi, meminta maaf atas ucapan “bodoh” kepada seorang jurnalis saat dimintai konfirmasi terkait pedoman teknis pembagian jasa pelayanan tenaga kesehatan.
Herry Mulyadi memberikan klarifikasi dan membantah adanya niat menghina. Ia bahkan bersumpah tidak bermaksud merendahkan jurnalis tersebut.
“Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan ‘bodoh’ dalam konteks menghina atau merendahkan. Itu hanya spontanitas dalam berbicara,” ujarnya.
Ia mengakui adanya kekhilafan dalam bertutur kata dan menyampaikan permintaan maaf.
“Saya mohon maaf atas kehilafan dalam bertutur. InsyaAllah ke depan akan lebih berhati-hati agar hal seperti ini tidak terulang,” tambahnya.
Menurutnya, ia mengacu pada kebiasaan di Makassar, Sulawesi Selatan. Penggunaan kata “bodoh” atau umpatan kasar sering kali justru menjadi bentuk keakraban tertinggi, simbol kedekatan, dan spontanitas dalam pertemanan (gaul). Istilah-istilah ini tidak digunakan kepada orang yang baru dikenal atau dalam situasi formal.
Ia menjelaskan lebih jauh, kata spontan “bodo” (bodoh) khas Makassar digunakan sebagai bentuk kedekatan. Istilah “bodo” dan umpatan dasar yang sangat akrab seperti “tolo’”, yang berarti bodoh, sering diucapkan spontan saat teman melakukan kesalahan konyol. Selain itu, ada pula “dongok”, bentuk lain dari bodoh/bego. “Tanranna dongok” berarti “dasar bodoh”. Sementara “baga” merupakan istilah slang untuk menyebut seseorang bodoh.
“Jadi sama sekali tidak ada konteks menghina, tapi itulah, kadang nurani tidak lagi jalan. Objektivitas biar Allah balas,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Rian Afdal, wartawan Global Sulteng, mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan saat menjalankan profesinya. Ia mengaku awalnya datang untuk meliput pelantikan direktur baru RSUD Undata Palu. Di lokasi, Rian sempat meminta izin kepada drg. Herry untuk melakukan wawancara.
“Saya bilang mau wawancara, tapi beliau tanya wawancara apa. Saat itu saya masih harus wawancara dengan Wakil Gubernur, jadi saya dahulukan,” ujar Rian.
Setelah mewawancarai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Lamadjido, Rian kembali mencoba menemui drg. Herry saat rombongan bergerak menuju area parkir. Ia bermaksud mengonfirmasi pedoman teknis pembagian jasa pelayanan yang diterbitkan saat drg. Herry masih menjabat sebagai direktur.
Namun, menurut Rian, respons yang diterima tidak sesuai harapan.
“Dia bilang, itu tidak usah ditanya lagi, tidak ada masalah. Suruh tanya direktur baru saja,” ungkapnya.
Rian kemudian berupaya meminta waktu wawancara lanjutan di kantor, namun belum mendapat kepastian. Ia juga diarahkan untuk menghubungi bagian keuangan RSUD Undata.
Situasi berubah ketika Rian mencoba menggali informasi lebih lanjut. Ia mengaku drg. Herry tiba-tiba meninggikan suara dan melontarkan kata “bodoh”.
“Dia bilang, ‘cari yang berkualitas jangan itu kau tanya, bodoh,’” tutur Rian menirukan.
Meski mendapat perlakuan tersebut, Rian mengaku tetap menahan diri dan mencoba meminta penjelasan. Namun, respons yang diterima dinilai tetap bernada tinggi, dengan anggapan bahwa pertanyaan yang diajukan tidak bernilai atau tidak “menjual”.
Atas peristiwa tersebut, organisasi jurnalis melayangkan kecaman keras, terutama dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah.

