Di bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri, ada fenomena menarik, tumpahnya pedagang-pedagang di pinggiran jalan. Dari menjual makanan sampai pakaian, muncul di tengah-tengah kita. Mereka adalah pedagang-pedagang.
Tidak sedikit dari pedagang-pedagang itu adalah pedagang baru, atau yang sebenarnya ia dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan bukanlah berprofesi sebagai pedagang.
Prinsip-prinsip berdagang juga masih belum diketahui betul oleh mereka. Pertimbangan hal haram, bisa jadi tidak jadi pegangan.
Pedagang baru ataupun pedagang lama, mestinyalah berpegang teguh pada kejujuran. Tak sekadar berfikir tentang keberuntungan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabiullah dan orang-orang sholeh.
Sebuah kisah, pada zaman Tabiin ada seorang pedagang perhiasan yang jujur bernama Yunus bin Ibnu Ubaid.
Pernah suatu hari saat akan berangkat salat, Yunus menitipkan toko kepada saudaranya.
Sepeninggalnya ia dari toko, ada seorang Badui datang untuk membeli perhiasan di toko Yunus. Saudara Yunus melayani pelanggan tersebut sampai adanya transaksi jual beli.
Sang Badui membeli sebuah perhiasan, yang sebenarnya seharga dua ratus dirham. Tapi pembeli tersebut membayarnya dengan empat ratus dirham. Di tengah perjalanan dari toko, sang Badui berpapasan dengan Yunus bin Ubaid, yang kemudian bertanya kepadanya, “Berapa harga yang engkau bayarkan untuk membeli perhiasan ini?” “Empat ratus dirham,” jawab sang Badui.
Yunus segera menimpali, “Tetapi harga sebenarnya dua ratus dirham. Mari kita kembali ke tokoku agar aku dapat mengembalikan kelebihan uangmu.”
“Tidak perlu. Aku sudah merasa senang dengan harga tersebut. Di kampungku harga perhiasan yang kubeli ini mencapai lima ratus dirham.” Sang Badui tetap tidak berkeberatan.
Namun, Yunus memaksanya untuk tetap kembali ke toko, sehingga pembeli tersebut pun menurut.
Sesampainya di toko, Yunus menegur saudaranya. “Apakah engkau tidak malu kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang dengan harga dua kali lipat?”
Saudaranya tersebut menanggapi. “Pembeli itu sendiri yang ingin membelinya dengan harga empat ratus dirham,” ujarnya melakukan pembelaan diri bahwa itu bukanlah kehendaknya.
“Meski demikian, di atas pundak kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan diri kita sendiri.” Yunus bin Ubaid menegaskan kalimatnya.
Kisah di atas, adalah sebuah inspirasi kejujuran. Inspirasi kehati-hatian dalam berdagang sekalipun itu sama-sama ridha.
Namun jikalau orang yang dihatinya ada rasa takut Allah, maka sesidikit apapun potensi keharaman sesuatu, maka ia benar-benar akan menghindarinya. Wallahu a’lam
NURDIANSYAH (PEMIMPIN REDAKSI MEDIA ALKHAIRAAT)

