SIGI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sigi mengakui, sejauh ini belum ada penyakit Difteri yang masuk di wilayahnya, sebagaimana yang dialami sebagian besar kabupaten/kota yang ada di Indonesia.

Meski demikian, Dinkes tetap meminta kepada masyarakat untuk berperilaku hidup sehat demi mencegah sedini mungkin mewabahnya penyakit mematikan itu.

Difteri sendiri merupakan infeksi menular yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diptheriae. Gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit dan Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinke Sigi, dr. Redison, Senin (18/12) mengatakan, Difteri merupakan salah satu penyakit menular, sebab bakteri yang membawanya menyebar melalui udara dan bisa  bersinggungan langsung dengan korban.

Menurutnya, pencegahan penyakit itu dapat dilakukan dengan imunisasi sejak usia 0 sampai 11 bulan. Pemberian imunisasi tersebut masuk dalam Program Penyuntikan Imunisasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT), dimana selama periode usia 0 sampai 11 bulan dapat dilakukan secara berkala sebanyak 4 kali.

“Imunisasi bertujuan memberikan vaksin untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Hal ini merupakan program Pemerintah Pusat yang ditindaklanjuti di daerah. Imunisasi ini gratis,” kata Redison.

Setelah diimunisasi, namun tetap terjangkit penyakit tersebut, maka dampaknya tidak akan parah apabila dibandingkan dengan yang tidak diimunisasi. Selain Imunisasi DPT, juga terdapat Imunisasi Penyakit Menular lainnya yang perlu dilakukan kepada bayi agar terhindar dari penyakit, diantaranya Hepatitis, Tuberculosis (TBC), Polio dan Campak.

Namun kata dia, dalam pelaksanannya, masih banyak masyarakat awam yang belum mengetahui pola imunisasi, sistem imunisasi serta pentingnya imunisasi terhadap kehidupan manusia, khususnya balita.

“Ketersediaan vaksin sangat memadai baik di Dinas Kesehatan, rumah sakit dan Puskesmas. Pada dasarnya, pihak Puskesmas akan melakukan pendataan terhadap bayi yang membutuhkan vaksinasi dalam rangka mengetahui jumlah vaksin yang dibutuhkan,” katanya.

Sementara Kasi Pengendalian Penyakit Menular Vektor dan Zonosis, Dinkes Sigi, Yenni menambahkan, wilayah yang rawan terjangkit penyakit Difteri adalah wilayah yang padat penduduk.

“Di kabupaten Sigi sendiri, dapat dikatakan wilayah pinggiran kota dan secara umum masih kecil kemungkinan terjangkitnya penyakit tersebut. Tapi kami akan terus memberikan edukasi, imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi terhadap bayi, dalam rangka menghindari berbagai jenis penyakit menular,” singkatnya.

Sebelumnya, Dinkes Kota Palu menggelar aksi peduli kesehatan dan pencegahan Difteri. Aksi itu melibatkan ratusan orang yang berasal dari sejumlah organisasi, seperti dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) serta sejumlah Ormas lainnya, dengan membagi 1000 brosur pencegahan Difteri dan penyuluhan.

Oleh Menteri Kesehatan, penyebaran penyakit ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena sudah mewabah di 20 daerah yang ada di Indonesia.

Data Kemenkes menunjukkan, sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten/kota di 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.

Pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. (HADY)