Fenomena Lama yang Menjelma Baru
Oleh : Mohsen Hasan
Di tengah hiruk-pikuk Majapahit yang megah, sejarah menyimpan satu sosok gelap yang tak pernah tercatat jelas dalam prasasti. Bukan pejabat terkemuka, bukan panglima perang, bukan pula pujangga. Namun bisikan-bisikannya mampu menggoyang singgasana.
Masyarakat menyebutnya Sengkuni.
Ia tidak menyerang dengan pedang, melainkan dengan kata-kata.
Ia tidak menggulingkan musuh dengan pasukan, tetapi dengan fitnah dan kecemasan.
Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi dampaknya mematikan:
“Tuanku… sang patih mulai berambisi.”
“Ada yang ingin merebut tahta.”
“Rakyat tak lagi percaya pada raja.”
Dan dari satu bisikan, istana retak.
Dari satu fitnah, kekuasaan goyah.
Majapahit yang tegak berdiri mulai terbelah oleh rasa curiga.
Ketika Sejarah Berulang: Sengkuni di Zaman Media Sosial
Sengkuni bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah archetype manusia licik yang hidup di setiap zaman.
Bedanya, dulu ia berbisik di lorong istana.
Sekarang ia hadir melalui:
- pesan berantai yang provokatif,
- akun anonim yang menyulut emosi,
- opini palsu yang menyamar sebagai data,
- potongan video yang sengaja dipelintir,
- komentar penuh racun di kolom media sosial.
Jika dulu prajurit saling melirik curiga,
kini masyarakat modern saling menuduh bahkan tanpa bertemu.
Kita hidup di dunia yang serba cepat dan serba sensitif.
Sekali salah baca, pertengkaran muncul.
Sekali salah share, fitnah menyebar.
Era digital membuat Sengkuni lebih cepat berkembang daripada berita resmi.
Mengapa Kita Mudah Terpengaruh?
Karena masyarakat hari ini memiliki ciri-ciri yang mirip dengan kondisi retaknya Majapahit:
1.Informasi Berlimpah, Kepercayaan Menipis
Ketika terlalu banyak suara, kita sulit menentukan mana fakta dan mana drama.
2.Emosi Lebih Kuat dari Verifikasi
Orang lebih mudah percaya pada narasi yang menggetarkan daripada data yang menenangkan.
3.Polarisasi Menguat
Setiap kelompok merasa benar, dan yang berbeda dianggap musuh.
4.Kecurigaan Menjadi Budaya Baru
Kita menjadi bangsa yang cepat tersinggung, cepat menghakimi, dan lamban mendengar.
Dalam kondisi seperti ini, Sengkuni hanya butuh satu bisikan kecil untuk menyalakan api besar.
Pelajaran dari Majapahit untuk Indonesia Modern
Majapahit tidak runtuh karena serangan musuh luar.
Ia runtuh karena perpecahan dari dalam.
Dan hari ini, bayangan sejarah itu terasa relevan:
- Negatif lebih viral daripada positif.
- Hoaks lebih cepat menyebar daripada klarifikasi.
- Kecurigaan mengalahkan rasa persaudaraan.
- Fitnah lebih murah daripada dialog.
Sengkuni modern tidak memakai kain hitam.
Ia memakai sinyal internet.
Akhir Kisah: Racun yang Menelan Peracunnya
Dalam kisah lama, Sengkuni akhirnya tumbang.
Bukan oleh pedang atau tombak,
melainkan oleh racun intriknya sendiri.
Itulah hukum semesta:
apa yang ditanam, itulah yang dituai.
Dan ini mengingatkan kita bahwa tidak ada manipulasi yang bertahan lama.
Kebenaran tidak butuh terburu-buru.
Ia hanya menunggu momen untuk memulihkan keadaan.
Refleksi untuk Pembaca Artikel Hari Ini
Tidak semua pengkhianat datang dengan suara keras.
Banyak yang datang dengan:
- senyum,
- kepura-puraan,
- atau pesan pendek yang tampak “peduli”.
Namun dampaknya bisa menghancurkan hubungan, instansi, bahkan bangsa.
Karena itu, di era di mana semua orang bisa berbicara, kita perlu lebih bijak untuk menyaring sebelum menyebarkan.
Seperti kata pepatah:
“Kerajaan runtuh bukan karena musuh, tetapi karena rakyatnya berhenti saling percaya.”
Dan tugas kita hari ini adalah memastikan agar Sengkuni dengan segala bentuk barunya tidak kembali menguasai keadaan.
