PALU, MAL – Kabut asap tebal menyelimuti Kota Palu, Sulawesi Tengah, seiring memburuknya kualitas udara akibat dampak kebakaran hutan dan lahan regional.
Konsentrasi PM2.5 pada Senin (5/10/2026) siang mencapai 206 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori sangat tidak sehat, sementara BMKG memperkirakan konsentrasi partikulat masih tinggi dalam tiga hari ke depan.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri-Poso BMKG, Asep Firman Ilahi, mengatakan polutan berasal dari sejumlah wilayah di Sulawesi dan juga terbawa dari luar kawasan melalui pergerakan massa udara.
“Sumber regional berasal dari titik api di Morowali, Tojo Una-Una dan Sulawesi Barat. Sementara long-range transport berasal dari karhutla di Ambon dan Papua Selatan,” kata Asep, Senin (5/10/2026).
Data BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Palu meningkat tajam dalam waktu sekitar satu hari. Pada Minggu (4/10/2026) sore, PM2.5 tercatat 132 mikrogram per meter kubik atau kategori tidak sehat. Angka tersebut melonjak menjadi 206 mikrogram per meter kubik pada Senin siang dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Pada periode yang sama, PM10 naik dari 130 mikrogram per meter kubik dengan kategori sedang menjadi 210 mikrogram per meter kubik atau kategori tidak sehat. Sementara PM1 meningkat dari 125 menjadi 189 mikrogram per meter kubik.
Ketiga parameter tersebut menjadi nilai tertinggi dalam pemantauan tujuh hari terakhir.
Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG GAW Lore Lindu Bariri, Soeharto, mengatakan peningkatan polutan sebenarnya telah berlangsung sejak penghujung September.
“Peningkatan konsentrasi polutan udara di Kota Palu telah terpantau sejak akhir September 2026,” ujar Soeharto.
BMKG mencatat sejak 28 September, konsentrasi PM10 telah masuk kategori sedang dan PM2.5 berada pada kategori tidak sehat.
Menurut Asep, pergerakan asap dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Tengah.
“Kalau dari data CDS, asap karhutla dari Ambon dan Papua Selatan terpantau dalam tiga hari terakhir. Hari ini diperparah oleh karhut regional dari Sulteng dan Sulbar,” katanya.
Ia juga mengatakan asap karhutla dari Morowali, Tojo Una-Una, dan Sulawesi Barat berputar di sekitar Sulawesi Tengah, terutama Kota Palu, ditambah kiriman melalui adveksi dari Papua Selatan.
Kondisi tersebut diperparah berkurangnya curah hujan akibat El Nino. Hujan yang dalam kondisi normal membantu membersihkan polutan dari udara menjadi minim sehingga partikulat bertahan lebih lama di atmosfer.
“Pada kondisi normal hujan berfungsi membersihkan udara dari polutan sehingga kualitas udara biasanya berada pada kategori baik hingga sedang. Namun saat ini curah hujan berkurang drastis,” ujar Soeharto.
BMKG memperkirakan kondisi kualitas udara Palu belum segera membaik. Konsentrasi PM10 dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih berada pada kategori sedang, sementara PM2.5 berada pada kategori tidak sehat.
“Ya, dalam tiga hari ke depan diprediksi masih tinggi,” kata Asep.
Prakiraan cuaca pada Selasa (6/10/2026) juga menunjukkan Kota Palu dan sejumlah wilayah lain di Sulawesi Tengah berpotensi berawan tanpa hujan signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di atas 100 dan menggunakan masker untuk menekan paparan partikulat halus.
“Masyarakat diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu dan partikulat halus ditengah semakin memburuknya kualitas udara disebabkan dampak Karhutla, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di atas 100,” ujar Asep.
Masyarakat juga disarankan menjaga hidrasi tubuh, mengenakan pakaian tertutup saat berada di luar rumah, serta tidak melakukan pembakaran sampah yang dapat memperburuk kualitas udara.
“Termasuk menjaga hidrasi tubuh untuk mencegah dehidrasi, serta tidak memperparah kondisi udara dengan melakukan pembakaran sampah sembarangan,” kata Soeharto.
