Jangankan untuk korupsi, mengambil sesuatu yang menjadi haknya sendiri saja beliau enggan melakukannya. Itulah Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal dengan kezuhudannya. Meski berposisi sebagai kepala negara atau Amirul Mukminin, beliau tidak pernah tergiur oleh gemerlap harta benda.

Ketika menerima utusan dari berbagai negeri di Jazirah Arab yang telah ditaklukkan, Umar bin Khattab menyambut mereka dengan mengenakan satu-satunya jubah yang dimilikinya. Jubah itu penuh tambalan dan tampak lusuh. Bahkan, terdapat 12 tambalan pada pakaian yang dikenakannya.

Sebagai pengganti Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar sebenarnya berhak menerima gaji yang lebih besar. Saat itu wilayah kekhalifahan Islam berkembang sangat pesat sehingga tugas dan tanggung jawabnya semakin berat. Kehidupan rakyat pun semakin makmur. Namun, Umar memilih menerima gaji yang sama seperti yang diterima Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kezuhudan Umar bin Khattab merupakan teladan yang diwarisi dari Rasulullah SAW. Suatu hari, Umar meneteskan air mata ketika melihat Rasulullah SAW berbaring di atas alas yang tipis dan langsung menghampar di tanah. Pemandangan itu membuatnya tidak mampu menahan kesedihan.

Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis, wahai Umar?”

Umar menjawab, “Demi Allah, bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Aku mengetahui bahwa engkau lebih mulia di sisi Allah daripada Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Mereka hidup dengan segala kenikmatan dunia, sementara engkau berada dalam keadaan seperti yang aku lihat saat ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah engkau rela, wahai Umar, jika bagi mereka dunia ini dan bagi kita akhirat?”

Umar menjawab, “Tentu saja aku rela, wahai Rasulullah.”

Melalui peristiwa itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada Umar bin Khattab dan seluruh umat Islam tentang hakikat kemuliaan hidup. Kemuliaan yang dibangun di atas ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT. Nasihat tersebut mengajarkan bagaimana seorang hamba memandang dunia dan akhirat secara proporsional.

Kemuliaan seorang hamba terletak pada kemampuannya mendahulukan akhirat daripada dunia. Sebaliknya, kehinaan terjadi ketika seseorang menjadi budak dunia dan melalaikan akhiratnya. Karena itu, Rasulullah SAW menekankan pentingnya sikap zuhud dalam menjalani kehidupan.

Zuhud merupakan pagar hati agar seorang hamba tidak terbelenggu oleh dunia dan tetap fokus kepada kehidupan akhirat. Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menjelaskan:

“Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta. Bersikap zuhud terhadap dunia adalah dengan lebih mempercayai apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu sendiri, serta menjadikan pahala musibah yang menimpamu lebih engkau cintai daripada jika musibah itu tetap berlangsung bersamamu.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang bagaimana sikap zuhud bagi orang yang memiliki harta. Beliau menjawab:

“Jika dirinya tidak terlalu bergembira ketika hartanya bertambah dan tidak terlalu bersedih ketika hartanya berkurang.”

Dalam kesempatan lain, Imam Ahmad menjelaskan bahwa zuhud juga berarti pendek angan-angan. Pendek angan-angan membuat seseorang rindu bertemu Allah dan tidak terlalu terpaut pada kehidupan dunia. Sebaliknya, panjang angan-angan membuat seseorang semakin mencintai dunia dan enggan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Dari sikap zuhud inilah kaum muslimin pada masa awal Islam mampu menjadi penakluk dunia. Mereka menguasai berbagai negeri, tetapi tidak membiarkan kemewahan dunia menguasai hati mereka. Dunia berada di tangan mereka, bukan di dalam hati mereka. Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)