Oleh: Ir. Muh. Adam, M.M., M.Si.
Unsur Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Alkhairaat

ALKHAIRAAT merupakan suatu lembaga keagamaan Islam yang saat ini berkembang pesat di wilayah Indonesia Timur yang bergerak dalam bidang pendidikan Islam, dakwah Islamiyah, dan sosial kemasyarakatan. Berawal dari madrasah kecil yang dirintis oleh Habib Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) di Palu pada tahun 1930, kini Alkhairaat telah menaungi ribuan madrasah, sekolah, pondok pesantren, dan majelis taklim.

Saat ini Alkhairaat lebih mengembangkan sayapnya dalam bidang ekonomi untuk mendukung berkembangnya kemandirian kelembagaan Alkhairaat. Kemandirian ekonomi menjadi kunci agar perjuangan dakwah dan pendidikan berjalan dengan baik dan mandiri.

Di sinilah peran pemuda menjadi sangat sentral.

1. Pemuda sebagai Motor Inovasi Ekonomi

Pemuda Alkhairaat adalah generasi yang melek teknologi, adaptif, dan berani mengambil risiko. Jika generasi tua membangun Alkhairaat dengan keikhlasan dan pengorbanan, maka generasi muda harus melanjutkannya dengan profesionalisme dan dengan berbagai karya inovasi.

Untuk mewujudkan kemandirian kelembagaan, pemuda didorong menjadi inisiator dan pengelola unit-unit usaha ekonomi produktif di semua lini, antara lain:

a. Sektor Pertanian dan Pangan:
Pengembangan komoditas tanaman pangan (padi, jagung, kacang-kacangan); hortikultura (berbagai jenis buah-buahan dan sayuran); perkebunan (kelapa, kakao, cengkeh, kopi); serta pengolahan hasil-hasil pertanian.

b. Sektor Peternakan dan Perikanan:
Peternakan sapi, kambing, ayam potong/petelur, serta perikanan budidaya ikan air tawar (lele, nila, mas, patin).

c. Sektor Jasa dan Perbengkelan:
Perbengkelan motor/mobil, bengkel las, servis alat pertanian, laundry, barbershop, fotokopi, dan percetakan.

d. Sektor Perdagangan dan Ritel:
Koperasi/BMT Alkhairaat, minimarket santri, toko kitab, distribusi sembako, dan air minum dalam kemasan.

e. Sektor Ekonomi Kreatif dan Digital:
Konveksi seragam dan batik Alkhairaat, kuliner/katering, kerajinan, dan jasa digital.

f. Sektor Pengelolaan Aset Produktif:
Optimalisasi tanah wakaf produktif, sewa gedung/aula, sewa lahan usaha tani, dan wisata religi.

2. Dari Konsumen Menjadi Produsen

Selama ini jutaan santri dan jamaah Alkhairaat adalah pasar yang besar. Pemuda harus membalik logika ini: menjadikan jaringan Alkhairaat sebagai ekosistem ekonomi internal. Setiap komisariat dan cabang didorong memiliki satu unit usaha unggulan yang saling terhubung dalam satu rantai pasok Pengurus Besar Alkhairaat (PBA)/Badan Usaha Milik Alkhairaat (BUMA).

3. Menjaga Nilai Keberkahan dalam Muamalah

Prinsip yang ditanamkan Guru Tua adalah keberkahan. Pemuda Alkhairaat dituntut untuk mengembangkan ekonomi syariah yang jujur, amanah, dan tidak meninggalkan ibadah. Keuntungan usaha dikembalikan untuk subsidi pendidikan guru-guru madrasah dan beasiswa santri kurang mampu.

Bukti Nyata: Ikhtiar HPA Pusat Membangun Kader Kealkhairaatan sekaligus Ekonomi Umat

Komitmen tersebut telah dibuktikan oleh Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Pusat melalui penguatan sumber daya manusia, yaitu melalui Pelatihan Training of Trainer (TOT) untuk mencetak pelatih dalam menjalankan visi dan misi Alkhairaat sekaligus memperkuat sektor ekonomi Alkhairaat, dan Pelatihan Kader Nasional (PKN) HPA sebagai jenjang kaderisasi tertinggi untuk membentuk kader yang militan secara ideologi Aswaja Alkhairaat sekaligus cakap dalam visi kemandirian ekonomi umat.

Tantangan Artificial Intelligence (AI) dan Pertanian sebagai Solusi

Di sisi lain, pemuda hari ini dihadapkan pada tantangan disrupsi/perubahan mendasar dari Artificial Intelligence (AI). Otomatisasi dan kecerdasan buatan telah menggantikan banyak lapangan kerja di sektor administrasi, jasa, dan industri kreatif digital, sehingga persaingan kerja semakin ketat dan banyak terjadi PHK.

Dalam kondisi inilah sektor pertanian, peternakan, dan perikanan tampil sebagai alternatif strategis yang tidak dapat tergantikan oleh AI. Secanggih apa pun teknologi, manusia tetap membutuhkan pangan untuk dimakan sehingga pangan tersebut harus dibudidayakan, dirawat, dan dipanen secara nyata. Inilah keunggulan abadi sektor agraris: ia berbasis pada tanah, air, dan makhluk hidup yang membutuhkan sentuhan tangan manusia, keikhlasan, dan kesabaran.

Oleh karena itu, kembali ke pertanian bukanlah kemunduran, melainkan lompatan cerdas. Ketika lapangan kerja digital direbut mesin, hamparan sawah, kebun, kolam, dan kandang ternak Alkhairaat justru menjadi benteng kemandirian ekonomi yang paling tahan terhadap gempuran AI, sekaligus menjamin ketahanan pangan umat manusia.

Kemandirian ekonomi bukanlah tujuan akhir, melainkan wasilah untuk menjaga kemuliaan dakwah. Jika pemuda hari ini berani mengambil peran, maka ke depan Alkhairaat tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam di Indonesia Timur, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan bermartabat.

Sudah saatnya pemuda Alkhairaat hijrah dari sekadar objek pembinaan menjadi subjek penggerak ekonomi kelembagaan.

Dalam perspektif Islam, ikhtiar menjemput rezeki melalui kerja keras adalah bagian dari ibadah. Allah SWT berfirman:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Rasulullah SAW pun bersabda: “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).

Inilah spirit yang diwariskan Guru Tua: bekerja dengan ikhlas, berniaga dengan jujur, dan bertani dengan sabar adalah jihad ekonomi. Harta untuk memuliakan guru, menyantuni santri, dan menegakkan panji-panji dakwah Ahlussunnah wal Jamaah.

Semoga Allah SWT memberkahi setiap tetes keringat pemuda Alkhairaat, menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir dan menguatkan kelembagaan kita hingga akhir zaman. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.