SIGI – Ketua Sanggar Seni Kaligrafi Alhasyimi (Saskal) Pusat Palu Mohammad Arif, menyatakan, peserta kaligrafi Alqur’an asal Sulteng semakin sulit masuk enam besar setiap gelaran Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional (MTQN). Apalagi MTQN ke-27 tinggal beberapa bulan lagi, di Medan Sumatra Utara 2018 mendatang.
Arif menjelaskan, perbandingan daerah ini dan Pulau Jawa, itu sangat berbeda. Di Sulteng, pemerintah sibuk mencari peserta MTQ, nanti pada saat menjelang MTQ. Sementara di pulau Jawa, contohnya DKI Jakarta, proses seleksi dilakukan dua tahun sebelum MTQN dan latihan selama satu tahun penuh. Jadi, mendekati MTQN, peserta asal Jakarta telah siap.
Keprihatinan lainnya, bimbingan peserta juga belum maksimal, ditambah lagi dengan kurangnya penghargaan pemerintah kepada setiap peserta. Sehingga, para peserta pun tidak fokus latihan, dan hanya menjadikan ini sampingan.
“Kemudian adanya dualiasme pekerjaan peserta, jadi mereka tidak bisa fokus ke situ. Nah kalau di Jawa itu, kaligrafi itu sudah jadi pekerjaan, karena hadiahnya tinggi, kemudian mereka ada beasiswa bulanan,” ungkap Mohammad Arif saat menjadi Tim Penilai Cabang Kaligrafi Alquran MTQ Sigi, Senin (6/11) siang.
Kemudian lanjut dia, nampaknya, pemerintah baru datang ke Saskal kalau ada waktu luang dan jelang lomba saj. Padahal, pihaknya telah menyediakan sarana, yakni pesantren kaligrafi setiap bulan Ramadhan.
Jika pola ini bisa diubah, dia yakin Sulteng bisa bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Apalagi kata dia bila setiap pemerintah daerah menyediakan beasiswa untuk peserta kaligrafi. (NANANG IP/ MUSTAFA)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.