Pengurus FTBM Sulteng Dikukuhkan, Minat Baca Terendah Nasional Jadi Tantangan

oleh -56 Kali Dilihat
Aktivitas baca di TBM Sikola Pomore, salah satu TBM di Sulawesi Tengah. Peningkatan minat baca di Sulteng yang masih berada di urutan 4 terbawah jadi salah satu 'PR' bagi pengurus FTBM Sulteng. (Foto: Dok. Sikola Pomore)

PALU – Pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Sulawesi Tengah periode 2021-2026 dikukuhkan oleh pengurus pusat, Sabtu (11/9).

Pengukuhan yang dilangsungkan secara virtual tersebut dihadiri oleh pengurus pusat FTBM di antaranya Ketua Umum dan Sekjen, Opik dan Heni Wardatur. Pengukuhan 15 pengurus daerah Sulawesi Tengah itu berdasarkan SK Pengurus Pusat Nomor 95/Forum TBM/IX/2021.

“Saya percaya bahwa saudara akan melaksanakan tugas ini dengan sabaik-baiknya, sesuai dengan tanggung jawab saudara,” kata Ketua Umum FTBM Pusat, Opik, saat melantik pengurus FTBM Sulteng, Senin (13/9).

Kepengurusan FTBM Sulteng periode 2021-2026 diketuai Devi Artini Uga, Irzan Hamidin sebagai Sekretaris, dan Ushamah Kalalla sebagai Bendahara. Sementara 12 pengurus lain mengisi bidang-bidang yakni, Bidang Kesekretariatan, Pengembangan Organisasi dan SDM, Infokom dan Litbang, serta Program dan Kemitraaan.

Sementara itu, peningkatan minat baca dan pemerataan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Sulteng menjadi salah satu tantangan para pengurus lima tahun kedepan.

Ketua FTBM Sulteng Devi Artini Uga mengatakan, kepengurusan yang diketuainya punya tantangan dalam pengembangan TBM. Apalagi tingkat minat baca dan literasi masyarkarat di Sulawesi Tengah hingga tahun 2018 masih terbilang rendah dibanding daerah lain.

“Yang utama dalam program kerja kami adalah pembentukan Forum TBM di kabupaten-kabupaten yakni Morowali, Morowali Utara, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, Tolitoli, dan Buol,” kata Devi saat rapat kerja yang digelar usai pengukuhan pengurus.

Devi menambahkan, hingga tahun 2021 ada sebanyak 57 TBM baik yang dikelola individu maupun komunitas pegiat literasi di Sulteng. Jumlah yang diakui Devi perlu dikembangkan demi kemudahan akses literasi untuk masyarakat.

Pegiat literasi asal Parigi Moutong itu mengakui literasi digital juga jadi pekerjaan rumah bagi para pengurus yang baru di tengah penggunaan internet yang meningkat.

Tantangan bagi kepengurusan FTBM Sulteng yang baru juga ditegaskan dalam data-data tingkat minat baca dan literasi yang dirilis BPS melalui Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Di tahun 2018 berdasarkan data itu, minat baca di Sulteng berada di urutan 31 dari 34 provinsi yang disurvey atau keempat terbawah dengan skor 39,11 persen.

“Tantangan lain demografi di Sulteng serta gerakan literasi kita yang masih bergerak sendiri-sendiri, akhirnya tidak bisa terukur dan tercatat dengan baik. Kita harus berkolaborasi agar tidak menjadi juru kunci minat baca di Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Faldi
Editor: Nanang